Theme images by MichaelJay. Powered by Blogger.

Titulo

recent

The Slider

ahanamasa

featured posts

berita
Showing posts with label berkelana. Show all posts
Showing posts with label berkelana. Show all posts

Wednesday, June 29, 2016

Bagas Parsadaan

 
Toga Marbun telah meresmikan ‘Bagas Parsadaan’ di Desa Bakkara, Kecamatan Bakti Raja, Humbang Hasundutan pada 28-29 Desember 2012. Istilah ‘Bagas Pasardaan’ diambil dalam Bahasa Toba yang bermakna ‘rumah keharmonisan’.

More

Wednesday, April 23, 2008

Orang Cina: Shaolin dan Santri Sama-sama Berwibawa

 
Dulu, saat masih kecil.. dan masih ngefans sama kungfu Shaolin, rasanya sangat ingin dan kagum dengan pembentukan dan kepribadian para biksu shaolin di China.

Disiplin yang mereka tempa dan keikhlasan dalam berbuat sesuatu dalam melayani kebutuhan masyarakat umum aalah ciri khas utamanya.

Ternyata seorang teman yang mempunyai teman kulaih dari Cina waktu dia sekolah di Universitas Madinah mengatakan bahwa di Cina semua kelompok masyarakt mempunyai kemiripan yang seperti itu. Dia mengatakan betapa para mahasiswa dari Cina sering mempuyai tingkat kedisiplinan yang tinggi bagai mereka orang-orang Shaolin di biara-biara.

Agustinus juga menemukan fenomena yang sama dalam perjalanannya...

"Imam masjid Dungan, disebut ahong, masih berumur 30-an. Waktu sholat ia memakai surban besar, seperti punyanya imam Kirghiz. Selepas sembahyang, ia kembali mengenakan topi bulu hitam, persis orang Rusia. Jubahnya hitam tebal, tentunya sangat hangat di musim dingin ini.

Jemaah yang cuma sedikit ini, menjadikan masjid sebagai ajang interaksi yang paling mengakrabkan. Selepas sembahyang, semua duduk di kamar kecil milik Lao Han yang hangat. Bercerita tentang pengalaman sepanjang hari, politik, dan gosip-gosip di lingkungan mereka.

Malam semakin larut. Udara semakin dingin. Satu per satu jemaah meninggalkan kamar Lao Han. Hanya ada kakek tua itu dan saya. Lao Han tidak banyak bicara. Ia mengingatkan saya kepada biksu dari Shaolin - ketaatannya, gerak-geriknya yang pelan tetapi pasti, misteri dalam kesunyiannya. Dan seperti ajaran kuno di China sana, Lao Han selalu tidur sebelum larut, bangun sebelum siang."

Lebih lengkapnya klik di sini



Jalan-jalan antar Huta Pakai Paspor

 
Bagaimana yah rasanya jalan-jalan antar huta pakai paspor... Artinya tidak pakai KTP tapi paspor. Mungkin itulah yang akan ditemukan kalau seandainya PKI dulu menang di Indonesia.

Perjalanan Agustinus memberi gambaran di sebuah negara di Asia Tengah..


"Di Kyrgyzstan, yang berfungsi sebagai KTP adalah buku paspor. Ada paspor yang berlaku internasional, dalam negeri, dan hanya lokal. Paspor milik Kemal adalah paspor lokal, yang tidak mengizinkannya keluar dari distrik Tokmok. Dia tak boleh ke distrik lain di Kyrgyzstan karena dia tidak punya paspor nasional, apalagi ke luar negeri. Sistem yang membatasi gerak-gerik warga negara ini, walaupun di dalam negaranya sendiri, adalah peninggalan zaman Soviet."

Sangking ketatnya hampi-hampir paspor tersebut mempunyai tiga fungsi. Lokal, nasional dan Internasional seperti biasa. Di negara-negara otoriter, sebenanrnya fungsi yang sama juga diberlakukan, hanya saja namanya bukan paspor, tapi surat keteragan perjalanan.



Terjerembab Dalam Tulisan

 
Saat membaca tulisan Agustinus Wibowo, klik judul untuk link ke tulisannnya, saya seperti terjerembab dalam tulisan.

Tulisan yang panjang dan berseri itu, sampai saat ini sudah sampai ke seri ke 35, seperti jebakan dalam duni amaya yang membuatku seperti tidak bisa terlepas dari internet.

Khususnya saat dia menceritakan kehidupan orang Dungan (Dunggan). Sebuah komunitas gabungan Arab dan Cina. Dengan kemampuan dan pengalamannya kuliah di Tiongkok, dia bisa memahami seluk beluk dan sejarah Dungan tersebut.

Apalagi saat dia menyebut istiah Ahong untuk sebutan Imam. Yang terpikir olehku adalah betapa campur adukya peradaban di sana sehingga istilah-istilah itu menjadi lucu.

Lebih lengkapnya lihat di sini...




Bingung do pe dalan tu Pakkat?
Sukkun ma di son !