Theme images by MichaelJay. Powered by Blogger.

Titulo

recent

The Slider

ahanamasa

featured posts

berita
Showing posts with label sosial. Show all posts
Showing posts with label sosial. Show all posts

Sunday, June 24, 2018

Egoisme dan Lunturnya Kesetiakawanan: Warganet Batak Kesal KMP Sumut II Tinggalkan Korban #KMSinarBangun #DanauToba #PrayforDanauToba

 
ilustrasi
SOPO JAHA PAKKAT -- Informasi KMP Sumut II yang meninggalkan korban KM Sinar Bangun yang tenggelam di Danau Toba (baca) baru-baru ini membuat warganet Batak kesal dan mengungkapkan kemarahannya di media sosial.

Hal itu dapat terlihat dalam beberapa kolom komentar Facebok dari media Tribunnews (baca). Walau ada yang mendukung kebijakan yang diambil KMP Sumut II yang hanya mengangkut tiga penumpang dari air, akan tetapi lebih banyak warga net yang marah karena tidak mengangkut semuanya. Setidaknya bisa mengurangi korban.

Bagi yang lahir di Bonapasogit atau di daerah masyarakat Batak (ada tujuh kabupaten di sekitar Danau Toba) sudah terbiasa dengan nasihat orang tua agar menjauhkan diri dari musibah. Mengapa? karena meminta tolong di daerah ini akan sangat sulit.

Baik itu karena medan musibah seringkali jarang manusia, di hutan atau di danau, maupun karena kebiasaan.

Mungkin tulisan ini berupa otokiritik kepada sesama masyarakat Batak, bahwa sudah saatnya kebiasaan buruk (walau pun ada juga yang baik) ditinggalkan.

Dulu ketika infrastruktur jalan di daerah Batak belum beraspal, pemilik mobil biasanya akan mengasah keterampilan tinggi agar mobil tidak sampai terjebak di lumpur di tengah hutan. Karena bagaimanapun akan sangat sulit untuk meminta tolong. Kalaupun ada perkampungan dekat lokasi, itupun akan butuh waktu lama negosiasi karena berhubungan erat dengan uang.

Perlu diingat, tidak ada tim SAR di perkampungan dan pedalaman. Kalaupun ada pegawai Kantor Desa yang bertugas untuk mengatasi musibah, tetap saja ujungnya adalah uang yang jumlahnya sangat relatif yang bisa dimaknai 'habis-habisan'.

Begitu juga jika ada mobil mobil masuk jurang, maka tingkat kesulitan akan semakin tinggi. Penderitaan bisa sampai batas maksimum terbawah kemanusiaan.

Lucunya, ketika ada pihak yang terketuk hatinya untuk menyediakan berbagai alat penyelamat seperti dongkrak, rantai penarik dll demi memudahkan sesama yang tertimpa musibah, karena terlalu sering terjadi, tidak jarang orang baik seperti ini akan dibenci. Mengapa? ya itu karena dikira mengurangi potensi pemasukan warga sekitar. What?

Contoh lain. Pada tahun 1995, sebuah rombongan anak sekolah berwisata ke Danau Toba. Mereka lalu menyewa perahu untuk keliling Danau Toba. Perahu diisi dengan sekitar 40 orang.

Tingkat keselamatan kapal itupun sangat rendah. Terbukti ketika para siswa ingin melihat pemandangan ke kiri, para siswapun ada yang penasahan untuk bergeser ke kiri. Hasilnya, kapalpun oleh ke kiri dan hampir terbalik.

Tidak ada peringatan sebelumnya dari kapal mengenai tingkat keselamatan, cara memakai baju pelampung dan lain sebagainya karena semuanya tampaknya sangat sederhana.

Uniknya, kegembiraan dalam mengarungi Danau Toba bisa berumah menjadi kecewa karena pemilik perahu bisa saja menambah uang tambahan dengan berbagai alasan. Misalnya, jalurnya terpaksa lebih jauh dan ini itu yang merusak suasana.

Lagi, pada saat siswa berenang dipantai, yang masuknya bayar. Salah satu di antara siswa ada yang terseret arus ke tempat yang dalam. Gurupun meminta tolong dengan beberapa pria di tempat yang menjaga pantai dan menerima ongkos masuk.

Lucunya, beberapa pria yang memegang pelampung itu ogah untuk menyelamatkan. Alasannya, penyelamatan itu ada biayanya. Jikapun diiyakan, pria 'penyelamat' itu meminta agar dibayar di depan, karena dia mengaku bahwa banyak orang yang tenggelam di Danau Toba, tidak memberi uang terima kasih setelah diselamatkan.

Dengan negosiasi yang begitu panjang, beruntung ada seorang siswa yang bisa berenang tadinya tidak ikut berenang karena jalan-jalan ke warung, langsung terjun ke danau menyelamatkan temannya itu.

Korbanpun dapat diselamatkan dan negosiasi batal. Pria petugas itupun berlalu tanpa perasaahan bersalah. Hei, di mana kesetaikawanan?

Mungkin saat ini, pengalamat itu akan tidak akan terulang karena bisa saja sudah ada petugas yang profesional.

Lihat di sini berita KM Sinar Bangun

Baca di sini komentar marahnya warga net kepada Kapten KMP Sumut II pada kolom komentar (lihat)

Wednesday, April 18, 2018

Polisi Singkil Tangkap Warga Humbang Hasundutan Pelaku Ilegal Logging

 
ilustrasi
SOPO JAHA PAKKAT -- Polisi menangkap empat pelaku ilegal logging bersama puluhan meter kubik kayu jenis meranti, rimba campuran dan jabon di kawasan Gampong Jabi-jabi, Kecamatan Sultan Daulat, Subulussalam, Minggu (15/4/2018) dinihari, sekira pukul 02.00 WIB.

Kapolres Aceh Singkil, AKBP Andrianto Argamuda melalui Kasat Reskrim, AKP Agus Riwayanto Diputra mengatakan, keempat pelaku diduga menebang, mengangkut dan memiliki hasil hutan tanpa dokumen yang sah dari kawasan hutan tersebut.

"Hal ini dilaporkan oleh sejumlah staf KPH Wilayah VI Subulussalam," ujarnya saat dikonfirmasi Senin (16/4/2018).

Keempat pelaku yang diamankan yakni AS (22), Sopir, warga Humbang Hasundutan, Sumatera Utara, JS (33), Sopir, warga Kecamatan Babul Rahmah, Aceh Singkil, AB (31), Wiraswasta dan SM (43), Petani yang merupakan warga Kecamatan Simpang Kiri, Subulussalam.

"Kayu yang diangkat sebanyak kurang lebih 40 meter kubik jenis meranti, rimba campuran dan jabon yang masih bulat ya G seolah-olah kayu itu berasal dari perkebunan rakyat, selain itu diamankan dua unit truk yang mengangkut kayu ini," ungkapnya.

Penangkapan berawal dari laporan adanya kayu yang dihanyutkan di sungai. Atas informasi itu, tim Sat Reskrim Polres Aceh Singkil kemudian melakukan penyelidikan dan menemukan barang bukti yang saat itu tengah dimuat ke dalam truk di lokasi.

"Dari pengakuan pelaku, kayu ini hendak dibawa ke Medan menggunakan dokumen faktur angkutan kayu bulan seolah kayu berasal dari kebun rakyat," jelas AKP Agus Riwayanto Diputra.

Saat ini, keempat tersangka beserta barang bukti masih diamankan di Mapolres Aceh Singkil untuk dilakukan pengembangan lebih lanjut. (sumber)

Monday, February 13, 2017

Jurus Bela Diri Dasar yang Wajib Diketahui

 
Mengetahui beberapa jurus dasar dari berbagai cabang bela diri menjadi suatu keharusan bila tinggal di sebuah komunitas dengan tingkat keamanan yang tidak baik.

Berikut ini beberapa jurus dasar yang diambil dari Youtube.

Jurus-jurusnya dapat dihafal dan dilatih terlebih dahulu untuk penguasaan lebih lanjut.


Monday, October 26, 2009

Program Pelatihan Budidaya Salak

 
Program Pelatihan dan Magang Budidaya Salak Pondoh Super, Salak Madu, Salak Gula Pasir - Program Pelatihan dan Magang Budidaya Salak Pondoh Super, Salak Madu, Salak Gula Pasir Tempat : Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya (P 4 S)

Prestasi : 1. Tahun 2001 dikunjungi Menteri Pertanian
2. Tahun 2003 dikunjungi Dirjen Bina Produksi
Holtikultura
3. Penghargaan-penghargaan dari :
a. Intsansi – instansi terkait
b. Peserta pelatihan
4. Peserta pelatihan :
a. dari beberapa propinsi di wilayah Indonesia
b. dari luar negeri : Jepang, India, Bangladesh,
Mongolia dan Afrika Selatan
Alamat : Bening, Merdikorejo, Tempel, Sleman, Yogyakarta 55552
Lokasi : di sentral wilayah penghasil salak pondoh
Waktu : 3 - 5 hari
Kapasitas : 10 orang
Fasilitas : 1. penginapan
2. alat tulis
3. makan 3 kali sehari + snack
Biaya : Rp per peserta/hari
Schedule
Pelatihan :
Metode
Pelatihan : sebagian besar ditekankan pada praktek kerja
Kontak: Warsito Agung Prabowo
Telepon/Ponsel: 62 274 7145851 (SMS OK), 62 274 7145851 (SMS OK)
Alamat: Duwet I Banjarharjo Kalibawang
Kota: Kulon Progo 55672, Yogyakarta

Syarat Pertumbuhan Salak

 
Tanaman salak merupakan salah satu tanaman buah yang disukai dan mempunyai prospek baik untuk diusahakan. Daerah asal nya tidak jelas, tetapi diduga dari Thailand, Malaysia dan Indonesia.

Ada pula yang mengatakan bahwa tanaman salak (Salacca edulis) berasal dari Pulau Jawa. Pada masa penjajahan biji-biji salak dibawa oleh para saudagar hingga menyebar ke seluruh Indonesia, bahkan sampai ke Filipina, Malaysia, Brunei dan Muangthai.

More

Aspek Produksi Budidaya Salak

 
Salak merupakan tanaman asli Indonesia, yang sampai saat ini belum diketahui secara pasti sejak kapan tanaman tersebut dibudidayakan pertama kali. Hanya diduga tanaman salak ini sudah dibudidayakan sejak ratusan tahun silam.

Tanaman salak memiliki nama ilmiah Salacca edulis Reinw dan termasuk famili Palmae serumpun dengan kelapa, kelapa sawit, aren (enau), palem, pakis yang bercabang rendah dan tegak. Batang salak hampir tidak kelihatan karena tertutup pelepah daun yang berduri yang tersusun rapat. Dari batang yang berduri itu, akan tumbuh tunas baru yang dapat menjadi anakan atau tunas bunga buah salak dalam jumlah yang banyak.

Tanaman salak dapat hidup bertahun-tahun, sehingga ketinggiannya dapat mencapai antara 1,5 – 8 meter, bergantung pada jenisnya. Dari akar yang tua dapat tumbuh tunas baru yang juga dapat ditangkarkan sebagai bibit. Tanaman salak termasuk golongan tanaman berumah dua (dioceus), yang artinya membentuk bunga jantan pada tanaman terpisah daru bunga betinanya. Dengan kata lain, setiap tanaman salak memiliki satu jenis bunga atau disebut tanaman berkelamin satu (unisexualis).

Karena Salak ke-5 Putrinya jadi Sarjana

 
Buah yang memiliki kulit dan bentuk yang khas serta memiliki duri pada pohonnya, telah lama dibudidayakan oleh H. Mukojien (60 tahun) di Dusun Salak Desa Semboro Lor Kecamatan Tanggul Kabupaten Jember. Berawal dari lahan salak yang merupakan turun temurun dari keluarga Mukojien, yang berarti umur salak lebih tua dari umur H. Mukojien.

Faktor keturunan inilah yang mendukung Mukojien untuk melestarikan budidaya salak yang telah ditekuni keluarganya sejak lama. Bermodalkan ilmu keturunan, Mukojien mampu memperluas lahan yang semula hanya beberapa petak saja, hingga sekarang menjadi berkembang pesat.

Sifat tekun dan ulet yang diwariskan keluarganya membuat H. Mukojien mencoba untuk mengembangkan atau menumbuhkan Salak Pondoh yang merupakan hal yang baru di Dusun Salak, karena hanya H. Mukojien yang mencoba untuk menanam salak pondoh. Tahun 2006, Mukojien membeli bibit yang berjumlah 400 yang didatangkan langsung dari Jogjakarta, membuat H. Mukojien menjadi petani pertama yang mampu menumbuhkan Salak Pondoh di Dusun Salak dan menjadi petani salak tersukses. Bibit yang dibelinya dari Jogjakarta, oleh Mukojien diteliti dan dipelajari bagaimana proses menumbuhkan dan membudidayakan, karena menurutnya Salak Pondoh sangat susah untuk ditumbuhkan di Dusun Salak. Bibit yang dibelinya dari Jogjakarta sebanyak 400 dengan harga Rp3.750 per bibit, kini menjadi 700 pohon salak pondoh yang produktif.

More

Sunday, January 04, 2009

First Indonesian Satellite Launch Vehicle Revealed

 
Tahun 2009, Indonesia akan menandai tahun kebangkitan teknologi ruang angkasa. Lapan, telah berhasil mengembangkan roket peluncur satelit yang membuat Indonesia sejajar dengan dunia maju dalam eksplorasi ruang angkasa.

First Indonesian-built satellite working well

 
The first Indonesian-built video surveillance satellite has successfully entered orbit and sent signal that it was working well, a local media report said on January 11. Weighing some 57 kg, the micro-satellite carries a high resolution colour video camera with a swath or coverage of 3.5 kilometers wide and a low resolution color video camera with a swath of 81 kilometers. The cameras have a resolution of five meters and 200 meters, respectively.

The satellite can be used for real-time monitoring of various conditions on Earth such as forest fires, volcanic activity and flooding. It will pass over Indonesia four times a day.

The satellite was launched on January 10 from the Indian Space Research Organization (ISRO)'s Satish Dhawan Space Center in Sriharikota, in the southern Indian state of Andhra Pradesh, using a Polar Satellite Launch Vehicle PSLV-C7 rocket.

First Indonesian-Developed Satellite To Be Launched In October

 
The Indonesian National Aeronautics and Space Agency (Lapan) is expected to launch the first Indonesian-developed satellite next October, a milestone that will put the country on the world map of space technology.
The micro-satellite Lapan-Tubsat would be launched into orbit in late October to take pictures of regions affected by the disasters that have plagued the country recently, including volcanoes, earthquakes, forest fires and tsunamis, the Jakarta Post newspaper reported Thursday.

"The satellite will carry a video camera that will feed us real-time pictures. It will be different from the existing satellite, which gives us a one- or two-week delay," Lapan Chairman Adi Sadewo Salatun was quoted as saying by the daily.

Thursday, November 20, 2008

Polisi Akan Kawal Semua Proses Tender di Sumut

 
Polda Sumatera Utara akan menempatkan personilnya dalam setiap proses pelelangan proyek yang dilakukan di daerah itu untuk menghindari terjadinya praktik premanisme.

Sumber

Belanda Utamakan Beasiswa untuk Pelajar Luar Jawa

 
Pemerintah Belanda menawarkan beasiswa kepada warga negara Indonesia untuk menempuh pendidikan sarjana, master dan doktor di negeri kincir angin tersebut.

Head Scholarships Section, NESO Indonesia, Monigue Soesman MA di Medan, Rabu, mengatakan, beasiswa tersebut terbuka untuk umum dan diprioritaskan kepada dosen, staf LSM dan PNS.

Sumber

Saturday, November 15, 2008

Kelangkaan Pupuk Bersubsidi akibat Perbedaan Alokasi dengan Kebutuhan Riil

 
Pemerintah propinsi Sumatera Utara (Pempropsu) mengatakan, kelangkaan pupuk bersubsidi dan tingginya harga pestisida serta bibit pertanian akibat besarnya perbedaan angka ketersediaan/alokasi pupuk bersubsidi dengan kebutuhan riil pupuk di lapangan.





Sunday, March 23, 2008

Gizi Buruk Di Tapsel: Pembangunan Yang Timpang

 
Sabtu, 22 Maret 2008 00:01 WIB
Nasib Penderita Gizi Buruk Di Tapsel
WASPADSA Online

Kesehatan masyarakat merupakan suatu persoalan yang terus mengalami pasang surut dan selalu jadi agenda bagi pemerintah. Tingginya biaya pelayanan medis (berobat) menjadi penghalang bagi masyarakat miskin untuk untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang sepadan dan merupakan suatu dilema yang dihadapi selama ini.

Seperti yang dialami keluarga Ali Suman Rambe, Penduduk Desa Sigordang, Kecamatan Marancar, Kabupaten Tapanuli Selatan yang hidup dibawah garis kemiskinan. Putri sulungnya yang bernama Rohana br Rambe, 13, dan anaknya Robinson Rambe, 15, sudah hampir enam bulan terbaring akibat menderita (mengidap) penyakit mirip gizi buruk.

Kedua anak yang masih duduk di bangku kelas VI SD dan kelas II SMP terpaksa berhenti sementara dari sekolahnya masing-masing karena penyakit yang dideritanya begitu serius. Pertolongan medis yang didapatkan anak kelima dan keenam dari pasangan Ali Suman Rambe dan Rosida Siregar tergolong apa adanya akibat ketidakmampuan ekonomi orang tuanya.

Dari kedua anak yang mengalami nasib malang ini, yang paling memprihatinkan adalah kondisi Rohana br Rambe. Tubuhnya yang semula segar bugar, kini hanya tinggal tulang dan tingkat perkembangan kesembuhannya dalam kurun waktu sekira enam bulan baru sebatas mau makan. Sedangkan Robinson Rambe, kaki sebelah kirinya masih lumpuh total.

Orang tua anak yang bernasib buruk ini, Ali Suman Rambe, kepada Waspada di kediamannya yang berjarak sekira 30 kilometer dari P. Sidimpuan menuturkan, pada September 2007, putrinya, Rohan Rambe sepulang dari kebun mengeluhkan perutnya sakit. Sedangkan anaknya Robinson Rambe dalam waktu yang tidak bersamaan menderita sakit hingga kakinya lumpuh.

Melihat kondisi anaknya yang cukup memprihatinkan, Ali Suman membawa Robinson ke Rumah Sakit Umum Sipirok dan setelah dirawat sekitar seminggu, dokter menyarankan untuk dibawa ke ke Medan. Akibat ketiadaan dana Robinson terpaksa dibawa pulang kerumah.

Begitu juga dengan Rohana Rambe, pada awalnya sempat dirawat satu minggu di RSU P.Sidimpuan dilanjutkan dengan berobat jalan selama satu bulan.Tapi akibat ketiadaan dana terpaksa berobat ke dukun kampung.

’’Sebenarnya kondisi Rohana saat itu sudah mulai membaik, namun saya tidak mampu lagi menebus obatnya. Jangan untuk obat, untuk makan saja sudah susah,’’ katanya dengan nada memelas.

Pemkab Tapsel melalui dinas kesehatan langsung turun ke lokasi untuk memberikan pertolongan medis, namun yang menangani perawatannya diserahkan pada bidan desa yang ada di daerah itu.

Dalam prosesi memberikan pertolongan, katanya Pihak Dinas Kesehatan beberapa hari yang lalu menyuruhnya untuk menandatangani kertas kosong bermaterai dan kemudian diketahui berisikan surat pernyataan telah berobat di RSU Sipirok dan RSU P. Sidimpuan selama satu minggu dan pulang atas permintaan sendiri tertanggal 18 maret 2008.’’ Yang saya tanda tangani hanya kertas kosong,’’ katanya.

Terlepas ada atau tidaknya permainan dalam derita yang menimpa keluarga miskin ini, Ali Suman hanya berharap anaknya mendapatkan pengobatan yang baik agar bisa sembuh dan sekolah kembali sebagaimana biasa.




Saturday, February 02, 2008

Melarang Orang Sembahyang, Kelompok Anti-Toleransi Beragama Masih Eksis...

 
Selasa, 29 Januari 2008 03:00 WIB
Seputar Tudingan Larangan Shalat, Jika Benar, Pekerja Lebih Dulu "Meratakan" Pabrik
MUI DS: "Usut Secara Objektif"

Lubukpakam, WASPADA Online

Kasus dilarangnya shalat seorang karyawati PT Starindo Prima Tanjung Morawa hingga kini masih belum menemui titik terang.

Meski MUI Deli Serdang sudah membuat pernyataan secara tertulis tentang hasil investigasi yang mereka dapatkan, namun pihak perusahaan masih bersikukuh untuk tidak mengakuinya.

Menurut pihak perusahaan, pada Sabtu, 7 Juli 2007 lalu, sekira pukul 10.00, memanggil seorang karyawatinya, yaitu, Hariyati bersama beberapa temannya, masuk ke ruang personalia untuk mempertanggungjawabkan atas kesalahan bekerja saat mensortir produk mebel yang akan dikirim ke luar negeri.

Menurut Kepala Personalia PT Starindo Prima, Roni Sibarani, Sabtu (26/7), dirinya ikut berada di ruang personalia bersama Hariyati dan teman-temannya, untuk menyelesaikan masalah kesalahan kerja Hariyati yang mengakibatkan kerugian perusahaan sebesar Rp8.450.000. "Kami tidak menyekap, karena saat itu Hariyati dan sejumlah temannya berada dalam ruang personalia dalam keadaan pintu yang terbuka bahkan kaca yang tembus pandang," jelas Sibarani.

Bahkan katanya, Hariyati ada beberapa kali keluar masuk dari ruang Personalia untuk menerima telefon dari selularnya. "Kami juga tida ada melarangnya." Tak lama kemudian, tambah Sibaranai, Hariyati, permisi keluar dari ruang Personalia, "dia pamit mau ke kamar mandi." Tak lama kemudian Johan Indayung selaku pimpinan perusahaan menganjurkan Sibarani untuk mengecek apakah benar Hariyati berada di kamar mandi yang sudah hampir 10 menit.

Belum sempat sampai ke kamar mandi untuk menyusul, perisisnya di depan pintu Personalia Hariyati pun berjumpa dengan Sibarani, dan selanjutnya pertemuan pun dilanjutkan, akhirnya Hariyati bersedia menandatangani perjanjian bersedia dipotong gajinya per bulan 30-40 persen sebagai ganti rugi atas kesalahan kerja yang dilakukannya.

"Tidak ada paksaan, bahkan tidak ada berbicara tentang shalat," jelas Sibarani , bahkan saat dilakukan pertemuan antara pihak perusahaan, Hariyati cs dan Disnaker di Komisi B DPRD Deli Serdang beberapa bulan lalu, "Hariyati mengaku kalau dirinya tidak ada dilarang shalat," jelas Sibarani bersama sejumlah pekerja yang ikut hadir di DPRD Deli Serdang yang dijembatani Apoan Simanungkalit.

"Jadi kami bingung kenapa permasalahan shalat jadi dibesar-besarkan, padahal sebenarnya permasalahan ini sudah diselesaikan antara Hariyati dengan pihak perusahaan," tambahnya.

"Kami berharap MUI Deli Serdang agar jeli dan objektif memandang permasahan ini," kata pihak perusahaan, jangan sampai mengkobarkan hal SARA dan menimbulkan perpecahan sesama buruh PT Starindo Prima yang 90 persen adalah muslim.

Tentang hal ini, Mahlil, sekalu Ketua BKM Mushalla Al Ikhlas PT Starindo Prima, mengatakan, kalau benar Hariyati dilarang shalat mungkin kami karyawan muslim disini lebih dulu meratakan (menghancurkan) pabrik Starindo Prima, tegasnya.

Bertanggung jawab
Mengenai pernyataan pihak perusahaan ini, Sekretaris MUI Deli Serdang, H. Akhiruddin, LC, Minggu (27/1) menegaskan, yang menjadi pegangan MUI untuk mengusut masalah ini adanya hasil investigasi MUI ke lingkungan perusahaan, dimana Johan Indayung, telah mengakui adanya pelarangan shalat terjadap Hariyati.

"Ini yang menjadi dasar kita, sehingga kita meminta Johan Indayung, untuk mempertanggungjawabkannya," tegas Akhiruddin yang juga ketua Komisi C DPRD Deli Serdang.

Begitupun, katanya, jika Hariyati memberikan keterangan palsu kepada MUI Deli Serdang, berarti Hariyati juga harus mempertanggungjawabkan pengakuannya. "Kita juga tidak mau dibenturkan permasalahan yang berdampak buruk kepada umat."

"Kalau Hariyati memberi keterangan palsu, MUI Deli Serdang juga akan mengambil sikap kepada Hariyati," jelas Akhiruddin, yang akan terus melakukan pengusutan secara objektif terhadap kasus tudingan Hariyati dilarang shalat dzuhur oleh pihak perusahaan.

Tuesday, January 09, 2007

Rumah Suluk Sitorus

 
ilustrasi
08 Jan 07 08:18 WIB
Ratusan Jamaah Hadiri HUL II
Rumah Suluk Naqsabandiyah
Kisaran, WASPADA Online


Ratusan jamaah Tarekat Naqsabandiyah dari berbagai kabupaten di Sumatera Utara menghadiri HUL ke II Rumah Suluk Naqsabandiyah Baitul Hijrah, Dusun Sarimatua, Desa Tanjung Sigoni, Kec. Medang Deras, Kab. Asahan, Senin (1/1).
Selain itu hadir Ketua MUI (Majelis Ulama Indonesia) Ka-bupaten Asahan, H Usman Effendy Lc, Pemimpin Rumah Suluk Baitul Hijrah Khalifah H. Effendy Sitorus, tuan-tuan guru (Mursyd), Camat Medang De-ras, Drs. Sori Muda Siregar, Kepala Desa, tokoh agama dan masyarakat undangan lainnya.

Ketua MUI Asahan, H. Usman Effendy, LC dalam sam-butannya mengatakan, di negeri-negeri yang berkembang ajaran tarekat merupakan negeri yang makmur dan kaya. Hampir di seluruh penjuru du-nia, negara yang berkembang ajaran sufisme Islam, memiliki sumber tambang minyak.

Dia mengatakan dimana ada wali Allah, mursyid-mursyid dan khalifah-khalifah tarekat pasti dinegeri itu terdapat tam-bang Minyak, karena setiap tengah malam ada hamba Allah yang berzikir ribuan kali menye-but nama-Nya.

Seorang khalifah katanya, adalah pemimpin dunia yang bertugas untuk memakmurkan bumi. Karena itu tugas Khalifah sangat berat untuk meluruskan moral manusia yang telah rusak. Namun dia menilai, telah terjadi kesalahan persepsi masyarakat terhadap kehidupan para sufisme.

Masyarakat beranggapan seorang mursyid atau khalifah hidupnya jauh dari dunia. Islam adalah agama yang maju dan tidak kaku. Seperti contoh di Mesir saja, seorang Mursyid naik Mercedes Benz.

“Jadi Islam tidak mengajar-kan manusia untuk hidup jauh dari dunia,” ujarnya sembari mengatakan anggapan-anggapan keliru ini berkem-bang akibat penjajahan Belan-da, yang menyuruh umat Islam hanya untuk memikirkan uru-san akhirat, dan melupakan dunia, agar Indonesia sebagai negara mayoritas Muslim tetap di-jajah untuk disedot kekayaannya.

Suluk

Sedangkan Pemimpin Ru-mah Suluk Baitul Hijrah Khali-fah H. Effendy Sitorus menga-takan, suluk merupakan meto-de Tarekat Naqsabandiyah seba-gai metode untuk mendekatkan diri kepada Allah yang bertujuan untuk melatih hati mengingat zat Allah secara terus menerus, terutama saat sakratul maut.

Dikatakan, setiap muslim dalam menghadapi sakratul maut tidak ingat dan menyebut nama Allah, maka neraka ja-hannam bagiannya. Karena itu, zikrullah atau ingat kepada Allah hanya dapat berlangsung jika hati selalu dilatih untuk mengingatNya. “Ini makanya, hati perlu dilatih untuk berzikir, supaya ingat kepada Allah,” ujarnya.

Namun diakuinya bahwa sebagian anggota masyarakat masih kurang menerima keha-diran metode suluk sebab be-ranggapan tidak memiliki dalil-dalil yang jelas. ”Padahal dalam Al Quran dan Hadist telah me-ngajarkan kepada kita untuk selalu berzikir kepada Allah,” tambahnya.

Cikal bakal rumah Suluk Baitul Hijrah adalah tempat sholat almarhum orang tua kan-dungnya, Lobe Saleh Sitorus, seorang Salik Naqsabandiyah. Rumah Suluk ini didirikan Tahun 1996 untuk meneruskan cita-cita orang tuanya. Dan kini telah menjadi pusat kegiatan Islam di Desa Tanjung Sigoni Kecamatan Medang Deras.

Bangga

Camat Medang Deras, Sori Muda Siregar, atas nama peme-rintahan mengatakan, mayo-ritas penduduk Desa Tanjung Sigoni merupakan penganut Nasrani. Namun rumah Suluk ini bisa hadir di tengah nuansa yang berbeda dan sebagai tem-pat kegiatan dakwah Islam. ”Kita merasa bangga kehadiran rumah suluk ini bisa sebagai tempat kegiatan dakwah Islam dengan membangun sikap toleransi beragama,” katanya.

Dia menyanyangkan kalau rumah Suluk ini tidak diman-faatkan oleh masyarakat Asahan sebagai tempat penggemble-ngan jiwa seorang muslim serta berharap, Rumah Suluk Baitul Hijrah mampu melahirkan kader-kader Islam, sebagai corong agama untuk membe-sarkan Syiar Islam.

Humbahas dan Jagung

 
3.000 Hektar Lahan di Humbahas akan Ditanami Jagung

Jan 06, 2007 at 08:03 AM
Doloksanggul (SIB)

Bupati Humbahas Drs Maddin Sihombing MSi melantik pengurus KTNA (Kelompok Kontak Tani Nelayan Andalan)Kabupaten Humbang Hasundutan di Hotel Martabe Doloksanggul baru-baru ini. Dia mengharapkan agar KTNA dapat berbuat banyak dalam memajukan pembangunan pertanian di Humbahas. Acara KTNA itu dihadiri Wakil Ketua KTNA Sumut serta para utusan para petani se-Kabupaten Humbahas.

Menurut Sihombing, organisasi KTNA di Humbahas harus dapat memberdayakan para petani sehingga para petani itu benar-benar mampu meningkatkan pendapatannya. Di samping itu, lahan-lahan tidur yang masih luas di Humbahas harus dapat dimanfaatkan menjadi lahan yang produktif. “Organisasi KTNA merupakan salah satu organisasi yang besar di Humbang Hasundutan sehingga diharapkan mampu berperan dalam memajukan pertanian di daerah ini yang tujuannya untuk peningkatan disektor pertanian, ujar Bupati.

Dikatakan, Humbahas untuk tahun 2007 akan memprogramkan penanaman jagung di atas lahan sekitar 3.000 hektar oleh para pemilik modal (investor) sehingga lahan seluas itu dapat tersedia di Humbang Hasundutan. Untuk itu KTNA diharapkan bekerjasama dengan dinas terkait untuk mengembangankan pertanian jagung di Humbang Hasundutan ini. Di samping itu juga akan diprogramkan peternakan babi yang diharapkan akan menambah pendapatan para petani di Humbang Hasundutan.

Menyangkut pemberian bantuan pengoperasian traktor pertanian, Bupati sangat berharap agar pengoperasiannya dimanfaatkan secara maksimal demi pengembangan lahan-lahan pertanian yang terbentang luas di Humbang Hasundutan. Manfaatkan peralatan pertanian ini dengan baik dan dirawat sebaik-baiknya sehingga dapat bermanfaat secara berkesinambungan.

Sementara Ketua KTNA terpilih Ir Gamson Sihombing mengatakan, pelantikan pengurus KTNA Kabupaten Humbang Hasundutan sebagian kecil petani yang dipercaya menjadi “duta” yang mampu menyerap dan menyebarkan informasi dan teknologi dalam upaya pengembangan pertanian. Sebagai “duta” yang telah dipilih secara berjenjang tentunya seluruh pengurus KTNA memiliki tugas penting terutama dalam pengembangan pertanian di Humbang Hasundutan. Kiranya pengurus KTNA dapat memberikan kontribusi yang jelas terhaap perumusan kebijakan pertanian sesuai dengan kondisi dan kebutuhan petani di pedesaan.

“Pengurus KTNA Humbang Hasundutan tidak diharapkan memiliki pemikiran bahwa kepengurusan ini bersifat eksklusif tetapi harus memposisikan diri sebagai organisasi yang bersifat bebas dan terkoordinasi (interdependensi). Posisi ini diharapkan dapat membantu pembinaan hubungan dengan berbagai pihak yaitu sesama petani, petani dengan pemerintah, petani dengan BUMN, petani dengan perbankan dan berbagai pihak yang dapat memberikan kontribusi terhadap Pembangunan pertanian,” ujar Gamson Sihombing.

Dikatakan koordinasi ini sangat penting sehingga petani dapat merubah diri secara bertahap dari buruh tani menjadi petani bahkan menjadi pengusaha tani. Untuk itu KTNA harus mampu membuka mata dan memanfaatkan telinga sehingga tidak terlewatkan oleh teknologi dan informasi.

Susunan pengurus KTNA Humbang Hasundutan yang dilantik, Ketua Ir Gamson Sihombing, Wakil Ketua I Marulak Lumbangaol, Wakil Ketua II Deka Silaban ST, Sekretaris Adaman Sihombing, Wakil Sekretaris KT Sianturi dan bendahara Sekjen Pane. Sementara itu, Bupati Humbang Hasundutan Drs Maddin Sihombing MSi berkenan menyerahkan kunci 4 unit traktor kepada pengurus UPJA (Unit Pelaksana Jasa Alsintan) dengan menejer Robert Sihombing. Turut hadir dalam pelantikan pengurus KTNA Kabupaten Humbang Hasundutan yaitu, Kadis Pertanian Ir Djatipan Manullang, Kabag Infokom diwakili Alfonsius Tinambunan SE serta undangan lainnya.

Monday, January 01, 2007

HIV Menyerang Bonapasogit

 
Tiga Penderita HIV Ditemukan di Tuktuk Samosir

Dec 30, 2006 at 08:23 AM

Samosir (SIB)

Setelah dilakukan pemeriksaan terhadap sample dari sekira 120 orang di Tuktuk Samosir, ditemukan tiga orang terindikasi penderita HIV. Ketiganya berjenis kelamin pria dengan usia 33, 34 dan 38 tahun.

Ditemukannya penderita HIV di Samosir itu dikatakan Kadis Kesehatan Kabupaten Samosir Manigor Simbolon SKM, saat ditanya wartawan di ruang kerjanya, Kamis (28/12). Jumlah itu menurut Manigor suatu indikasi terdapat penderita HIV lain yang belum terdeteksi.

“Kami menyebutnya teori gunung es. Terlihat kecil di atas tapi melebar di bawah. Perhitungannya, setiap ditemukan penderita HIV di suatu daerah maka dikalikan dengan bilangan 70. Dari pemeriksaan yang kami lakukan itu, kemungkinan mereka tertular melalui suntikan,” kata Manigor yang menduga ketiga penderita adalah pemakai narkoba.

Ditemukannya tiga penderita HIV di daerah Tuktuk Kecamatan Simanindo Samosir itu ternyata bukan temuan pertama. Bahkan pertengahan tahun 2006, seorang penderita AIDS warga yang sama diketahui telah meninggal dunia.

Saturday, December 23, 2006

Proyek Diulang

 
Pekerjaan Proyek Peningkatan Jalan di Desa Simangaronsang Kecamatan Doloksanggul Diulang Kembali

Dec 19, 2006 at 08:24 AM

Doloksanggul (SIB)

Pekerjaan proyek peningkatan jalan di Desa Simangaronsang menuju Desa Parik Sinomba Kecamatan Doloksanggul Kabupaten Humbahas yang sebelumnya mengalami kerusakan sudah dibongkar dan diperbaiki kembali, setelah Bupati Humbahas mengadukannya kepada Dinas Tarukim Pempropsu tertanggal 20 Nopember 2006 lalu.

Wakil Bupati Humbahas Drs Marganti Manullang ketika dikonfirmasi melalui telpon selularnya, Senin (18/12) membenarkan hal tersebut. Dikatakan apabila hasilnya juga tidak sesuai seperti yang diharapkan maka akan tetap diekspos.

Sehubungan dengan surat Bupati Humbahas perihal kerusakan pelaksanaan kegiatan pengaspalan jalan Simangaronsang dan Parik Sinomba Kecamatan Doloksanggul dengan nomor 600/473/HH/2006 tanggal 20 Nopember 2006 yang ditujukan kepada Kadis Tarukim Pempropsu yang diposisikan kepada Satker SNVT peningkatan prasarana dan sarana pedesaan Sumut. Maka sesuai dengan hasil peninjauan SNVT ke lapangan tanggal 21 Nopember 2006 lalu serta pertemuan dengan Wakil Bupati Humbahas Drs Marganti Manullang, disepakati akan diperbaiki kembali dalam waktu secepatnya mengingat peningkatan jalan tersebut masih dalam tahap masa pemeliharaan.

Satker (Satuan Kerja) SNVT telah menginstruksikan kepada kontraktor CV BIKIN untuk segera memperbaiki kerusakan jalan dan plat douker sehingga dapat dimanfaatkan kembali.

Surat Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Cipta Karya SNVT peningkatan prasarana dan sarana perdesaan Pempropsu tanggal 23 Nopember 2006 yang ditujukan kepada Kadis Tarukim Pempropsu di Medan juga ditembuskan kepada Bupati Humbahas di Doloksanggul dan kepada CV BIKIN. Surat tersebut ditandatangani Kepala SNVT Peningkatan Prasarana dan Sarana Perdesaan Sumut Suryadi ST NIP 110026293.

Kondisi pembangunan jalan yang hancur-hancuran dan ditengarai tidak sesuai dengan bestek itu terungkap saat kunjungan tim reses DPRDSU Dapem VIII yaitu Drs Burhanuddin Rajagukguk, Albiner Silitonga MBA dan Ir Harman Manurung ke Humbahas, Rabu (15/11) lalu.

Ketua Gapeksindo Humbahas Birnes Simamora didampingi Karing Tobing mengucapkan terimakasih kepada Bupati dan Wakil Bupati Humbahas atas respon dan giatnya dalam meningkatkan sektor pembangunan di Bona Pasogit. Pengaduan yang ditujukan kepada Dinas Tarukim mengenai kerusakan jalan di Desa Simangaronsang menuju Parik Sinomba Doloksanggul adalah perbuatan yang terpuji dan tepat sasaran. Birnes Simamora menghimbau rekanan supaya bekerja dengan hati nurani dan benar-benar punya etika dan moral.

Saturday, December 09, 2006

BIARKANLAH PROPINSI SUMATERA UTARA UTUH

 
ilustrasi
BIARKANLAH PROPINSI SUMATERA UTARA UTUH
Pengantar: Artikel ini dimuat dalam Jurnal Otonomi Daerah, vol. I, no. 6, Juni 2002, halaman 44


Pembentukan suatu propinsi bukanlah semata-mata berdasarkan sumber daya alam dan sumber daya manusia saja. Tetapi perlu ada pertimbangan-pertimbangan yang mendalam tentang sosio kultural, perilaku dan mentalitas masyarakatnya. Sehingga harus jelas dan terukur keterjaminan kehidupan masyarakatnya yang harmonis seraya tetap meningkatkan semangat kebangsaan, persatuan dan kesatuan. Demikian Basyral Hamidy Harahap, Sekretaris Yayasan Adam Malik, pengamat dan penulis buku-buku nilai budaya Batak, mengemukakan dalam suratnya kepada Menteri Dalam Negeri belum lama ini, sehubungan dengan adanya gerakan-gerakan sekelompok kecil orang untuk pembentukan Propinsi Tapanuli dan Propinsi Sumatera Timur.

Menurut Basyral Harahap, upaya pembentukan Propinsi Tapanuli, yang bekas keresidenan Tapanuli itu tidak akan termasuk Kabupaten Tapanuli Selatan dan Kabupaten Mandailing Natal, sehingga Propinsi Tapanuli yang dicita-citakan sebagian kecil elit masyarakat Tapanuli tersebut, hanyalah mencakup Kabupaten Toba Samosir, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah dan Kota Sibolga. Dari aspek histories Keresidenan Tapanuli dibentuk pada tahun 1843, sedang wilayah Asisten Residensi Mandailing Angkola (Tapanuli Selatan dan Mandailing Natal sekarang) dibentuk pada tahun 1840 termasuk dalam Keresidenan Air Bangis. Fakta objektif tampak secara gamblang, bahwa potensi ekonomi Tapanuli minus Tapanuli Selatan dan Mandailing Natal, tidak akan berhasil meningkatkan mutu kehidupan masyarakat setempat lebih tinggi dari yang sekarang, kata Basyral Harahap.

Sejalan dengan pemikiran ini, proses pembentukan Propinsi Sumatera Timur pun harus dihentikan. Karena nuansa tribalisme cukup kental dalam gerakan ini. Dipandang dari psikologi etnis, pembentukan Propinsi Sumatera Timur juga bernuansa peminggiran beberapa etnis yang ada di Sumatera Utara, yang dapat berakibat terhadap konflik horisontal. Usaha memecah-mecah Sumatera

Utara menjadi beberapa propinsi adalah cerita lama, seperti yang juga pernah terjadi pemikiran pada tahun 1957, yang sebenarnya lebih banyak merugikan pembangunan Sumatera Utara. Juga sama seperti yang dilakukan oleh Belanda, (Van Mook) yang membentuk Negara Sumatera Timur pada tahun 1948 yang silam.

Biarkanlah wilayah Propinsi Sumatera Utara tetap seperti sekarang ini, daripada dipecah-pecah menjadi beberapa propinsi tetapi tetap rawan konflik yang dapat menyuburkan tribalisme sekaligus melemahkan semangat kebangsaan. Menurut pendapat saya, kata Basyral Harahap, sebenarnya orang Tapanuli, justru berjuang untuk mencegah jangan sampai terjadi [Propinsi] Sumatera Timur, agar tetap Sumatera Utara utuh sebagai propinsi yang tegar dan kuat dengan masyarakatnya yang tetap hidup harmonis.

Fakta-fakta historis menunjukkan walaupun Sumatera Utara didiami penduduk multi etnis yang temperamental, namun situasi sosial budaya di propinsi itu termasuk yang paling tenteram dan terhindar dari konflik etnis. Sebab, semua pihak senantiasa memelihara terciptanya equilibrium. Keseimbangan yang harmonis itu akan terganggu apabila terjadi pembentukan Propinsi Sumatera Timur dan Propinsi Tapanuli.

Nama Sumatera Utara adalah simbol sekaligus pemelihara semangat equilibrium. Sangat sukar menamai suatu lembaga yang menjadi milik bersama tanpa memakai nama Sumatera Utara. Contoh: Semua Universitas Negeri di seluruh Indonesia memakai nama pahlawan nasional atau kerajaan yang ada di daerah kecuali Universitas Indonesia. Hal ini tidak terjadi di Sumatera Utara, sehingga ditetapkan nama Universitas Sumatera Utara. Hal yang sama terjadi pada IAIN, yang di seluruh Indonesia memakai nama tokoh ulama di daerah itu. Itu tidak terjadi di Sumatera Utara, sekalipun banyak ulama besar di daerah ini, sehingga terciptalah nama IAIN Sumatera Utara, kata Basyral Hamidy Harahap.

Dari Blog Basyral Harahap

Bingung do pe dalan tu Pakkat?
Sukkun ma di son !