Theme images by MichaelJay. Powered by Blogger.

Titulo

recent

The Slider

ahanamasa

featured posts

berita
Showing posts with label nasional. Show all posts
Showing posts with label nasional. Show all posts

Thursday, May 08, 2025

Jejak Persebaran Marga Tinambunan di Sumut dan Aceh

 
Aceh Singkil — Marga Tinambunan merupakan salah satu marga tua yang memiliki sejarah panjang di wilayah Sumatra bagian utara. Persebaran marga ini tidak hanya terpusat di satu daerah, tetapi meluas ke berbagai kawasan, khususnya Aceh Singkil, Kabupaten Pakpak Bharat, dan Humbang Hasundutan. Ketiga wilayah ini menjadi saksi jejak leluhur dan peran sosial masyarakat Tinambunan dari masa ke masa.

Di Aceh Singkil, keberadaan marga Tinambunan sudah tercatat sejak zaman pemerintahan kolonial Belanda. Pada tahun 1840, saat Belanda membentuk onder afdeling di Singkil Baru, beberapa tokoh adat dari berbagai suku ditunjuk sebagai datuk atau penghulu di masing-masing wilayah. Salah satunya adalah Gohon dari marga Tinambunan yang dipercaya menjadi penghulu di Rantau Gedang.

Kepercayaan itu menunjukkan bahwa marga Tinambunan telah memiliki pengaruh sosial dan politik di Singkil, bahkan di tengah kebijakan kolonial yang kala itu berupaya memperkecil kekuasaan adat. Gohon Tinambunan menjadi tokoh penting yang menjaga tatanan adat dan ketertiban masyarakat setempat.

Selain di Rantau Gedang, anggota marga Tinambunan juga tersebar di beberapa kampung dan dusun sekitar Aceh Singkil. Tradisi adat masih kental dipertahankan, termasuk dalam ritual kemasyarakatan dan adat istiadat pernikahan maupun kematian.

Selain Singkil, sebagian keturunan Tinambunan ada juga di Kabupaten Pakpak Bharat, salah satu wilayah yang dulunya menjadi bagian dari Tanah Pakpak di masa kerajaan-kerajaan kecil di Dairi. Di Pakpak Bharat, marga Tinambunan hidup berdampingan dengan marga-marga Pakpak lainnya seperti Boangmanalu, Berutu, Solin, dan Padang.

Di tanah Pakpak, Tinambunan dikenal aktif dalam berbagai kegiatan adat dan kepemudaan. Banyak di antara mereka yang terlibat dalam kegiatan sosial, pemerintahan desa, dan pertemuan adat. Mereka menjaga nilai Dalihan Na Tolu, sistem kekerabatan Batak yang menjadi pegangan utama dalam interaksi sosial.

Persebaran marga ini juga tercatat di Humbang Hasundutan, salah satu kabupaten di wilayah eks Tapanuli Utara. Humbang Hasundutan merupakan salah satu asal-usul nenek moyang marga Tinambunan sebelum berpindah ke berbagai wilayah lain. Hingga kini, desa-desa di Humbang Hasundutan masih banyak dihuni oleh keturunan Tinambunan.

Di Humbang Hasundutan, peranan marga Tinambunan sejak dahulu cukup menonjol. Mereka dikenal sebagai petani ulung dan penjaga tradisi dan adat. Di berbagai upacara adat, marga ini kerap dipercaya memegang peran penting, termasuk dalam hal musyawarah adat dan penyelenggaraan pesta-pesta adat besar.

Banyak keturunan Tinambunan dari Humbang Hasundutan yang kemudian melanjutkan pendidikan ke luar daerah dan kembali membangun desanya. Sebagian dari mereka juga merantau ke Medan, Jakarta, bahkan ke luar negeri, namun tetap menjaga ikatan dengan kampung halaman melalui acara-acara adat dan pertemuan rutin keluarga besar.

Hubungan antar marga Tinambunan di ketiga wilayah ini pun tetap terjalin erat. Beberapa kali diadakan acara bersama, seperti pesta adat atau pertemuan tahunan yang mempertemukan keturunan dari Singkil, Pakpak Bharat, dan Humbang Hasundutan.

Pak Aksi Tinambunan, SH, salah seorang tokoh marga Tinambunan di Aceh Singkil, menuturkan bahwa persatuan di antara sesama marga Tinambunan menjadi kunci dalam menjaga identitas budaya di perantauan. Ia berharap, generasi muda Tinambunan tetap bangga akan asal-usulnya dan tidak melupakan nilai-nilai luhur leluhur.

Menurutnya, peran marga Tinambunan dalam sejarah pembentukan daerah-daerah tersebut cukup signifikan, terutama di Aceh Singkil yang dulunya juga turut dipengaruhi oleh perjuangan tokoh-tokoh di masa pemekaran kabupaten.

Di Pakpak Bharat, marga Tinambunan menjadi bagian penting dalam perkembangan desa-desa tua. Di sini, mereka turut aktif membangun desa serta berperan dalam lembaga adat dan pemerintahan desa.

Sementara itu di Humbang Hasundutan, hingga kini keturunan Tinambunan masih menempati kampung-kampung di sekitar Pakkat, Tarabintang dan Parlilitan. Mereka menjaga tradisi leluhur dan rutin mengadakan acara adat untuk mempererat persaudaraan.

Para sesepuh Tinambunan di ketiga daerah ini juga rajin berbagi kisah tentang asal-usul marga, leluhur pertama yang bermigrasi, serta peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah di kawasan tersebut. Cerita-cerita ini diwariskan turun-temurun agar tidak hilang ditelan zaman.

Melalui pertemuan-pertemuan adat maupun kegiatan sosial seperti buka puasa bersama di Aceh Singkil beberapa waktu lalu, marga Tinambunan membuktikan bahwa nilai persaudaraan tetap dijunjung tinggi meski telah tersebar di berbagai wilayah.

Dari ketiga daerah itu, keturunan marga Tinambunan telah banyak yang sukses di berbagai bidang, mulai dari pemerintahan, pengusaha, akademisi, hingga tokoh adat. Hal ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarga besar marga tersebut.

Jejak persebaran Tinambunan yang melintasi batas wilayah menunjukkan betapa dinamisnya mobilitas masyarakat Batak dalam sejarah Nusantara. Sekaligus menegaskan pentingnya menjaga tali persaudaraan dan adat istiadat di tengah arus modernisasi saat ini.

Dengan semangat persatuan dan nilai-nilai adat yang diwariskan leluhur, marga Tinambunan di Aceh Singkil, Pakpak Bharat, dan Humbang Hasundutan bertekad terus menjaga warisan budaya sekaligus berkontribusi bagi pembangunan daerah masing-masing.

Tuesday, May 06, 2025

Ular Piton Renggut Nyawa, Perangkat Desa Perlu Patroli Anti Binatang Liar

 

Peristiwa memilukan terjadi di Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara, ketika seekor ular piton sepanjang 6,5 meter menewaskan seorang wanita paruh baya di kebunnya. Insiden ini sontak membuat warga sekitar geger dan memicu kekhawatiran soal keberadaan binatang liar di sekitar permukiman.

Korban, Wa Siti (55), sebelumnya berpamitan kepada keluarganya untuk pergi ke kebun pada Rabu (9/4) malam. Namun hingga keesokan harinya, ia tak kunjung kembali, membuat keluarganya cemas dan melakukan pencarian ke sekitar lokasi kebun yang biasa ia datangi.

Anak korban yang lebih dulu tiba di lokasi dibuat terpaku saat melihat ibunya dalam kondisi tragis. Tubuh Wa Siti saat itu telah dililit erat ular piton besar, bahkan kepala korban sudah berada di dalam mulut sang ular. Kejadian mengerikan itu pun cepat tersebar ke warga sekitar.

Tanpa menunggu lama, warga setempat berbondong-bondong menuju lokasi kejadian. Ular piton berukuran jumbo itu langsung ditebas hingga tewas demi menyelamatkan jasad Wa Siti yang sudah tidak bernyawa. Proses evakuasi pun dilakukan di tengah suasana duka dan kepanikan warga.

Kapolsek Pasarwajo, Iptu Hardi membenarkan peristiwa nahas ini saat dikonfirmasi media. Ia menyampaikan bahwa korban ditemukan dalam kondisi sudah meninggal dunia setelah dililit ular piton sepanjang 6,5 meter. Warga yang mengetahui kejadian itu langsung bertindak cepat memusnahkan ular tersebut.

Kematian Wa Siti kembali mengingatkan betapa pentingnya kontrol populasi hewan liar di sekitar lingkungan tempat tinggal masyarakat. Kejadian ini bukan kali pertama ular piton memangsa manusia di Indonesia, terlebih di wilayah pedesaan yang berdekatan dengan hutan dan lahan perkebunan.

Di negara seperti Australia, pemerintah secara rutin melakukan pemantauan populasi binatang liar termasuk ular. Tujuannya untuk mencegah terjadinya insiden berbahaya bagi warga. Patroli dilakukan berkala ke habitat alami maupun wilayah pemukiman yang rawan ditempati binatang liar.

Penduduk desa bersama otoritas kabupaten setempat bisa mencontoh langkah tersebut. Patroli rutin ke wilayah sarang ular di sekitar desa menjadi salah satu cara efektif mencegah insiden serupa terulang. Dengan begitu, potensi korban akibat serangan hewan liar dapat diminimalkan.

Selain itu, penting bagi masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, khususnya bagi warga yang sering beraktivitas di kebun atau hutan. Membawa alat pelindung diri dan tidak beraktivitas sendirian di malam hari bisa menjadi langkah preventif sederhana namun bermanfaat.

Kasus seperti ini sepatutnya menjadi perhatian pemerintah daerah. Perlunya program pengendalian satwa liar, edukasi kepada masyarakat, hingga pembuatan jalur patroli resmi di kawasan desa yang berdekatan dengan habitat ular patut dipertimbangkan demi keselamatan bersama.

Ular piton sebagai predator alami memang memiliki peran dalam ekosistem, namun bila populasinya tak terkendali atau mulai memasuki wilayah pemukiman, bisa menjadi ancaman nyata bagi manusia. Oleh sebab itu, keseimbangan ekosistem harus dijaga lewat pemantauan populasi berkala.

Di beberapa wilayah Sulawesi dan Sumatera, serangan ular piton terhadap manusia dan ternak masih kerap terjadi. Hal ini menunjukkan perlunya sistem mitigasi konflik manusia dan satwa liar yang terencana, termasuk pemetaan lokasi sarang ular di sekitar desa.

Ketua RT setempat menyatakan pihaknya bersama warga akan segera melakukan patroli lingkungan lebih rutin usai kejadian ini. Mereka akan menelusuri area semak belukar dan kebun warga yang berpotensi menjadi tempat persembunyian ular piton dan hewan liar lainnya.

Selain patroli, warga juga berinisiatif membersihkan lahan semak-semak liar yang tak terurus. Area seperti itu sering kali menjadi tempat favorit ular bersembunyi, terutama di musim hujan saat habitat alami mereka tergenang atau rusak.

Kasus Wa Siti menjadi peringatan penting bagi masyarakat luas. Tak hanya di Buton, desa-desa lain yang memiliki kondisi geografis serupa juga perlu lebih waspada terhadap pergerakan binatang liar. Nyawa manusia tak boleh dipertaruhkan akibat minimnya pengawasan terhadap hewan predator.

Pihak kepolisian pun mengimbau warga yang beraktivitas di area kebun atau hutan untuk selalu waspada. Bila menemukan ular dengan ukuran besar, diimbau segera melapor dan tidak menangani sendiri tanpa pendampingan petugas atau warga lain yang lebih berpengalaman.

Pemerintah kabupaten diharap turut turun tangan dengan membentuk tim pengendali satwa liar khusus di kawasan pedesaan. Tugasnya memantau, menangkap, dan memindahkan ular-ular liar yang berpotensi membahayakan masyarakat ke habitat yang lebih aman dan jauh dari pemukiman.

Penting juga adanya sosialisasi cara penanganan darurat bila terjadi serangan hewan liar. Masyarakat perlu dibekali pengetahuan dasar mengenai cara mengatasi ancaman hewan berbahaya, termasuk ular piton, sebelum petugas tiba di lokasi.

Tragedi ini menyisakan duka mendalam bagi keluarga Wa Siti dan masyarakat Dusun Labale. Meski ular piton tersebut telah dibunuh, kekhawatiran warga belum sepenuhnya sirna. Mereka berharap langkah antisipasi segera diterapkan agar tak ada lagi korban jiwa di kemudian hari.


Wednesday, December 14, 2022

PKN Dapat Nomor Urut 9 di Pemilu 2024

Partai Kebangkitan Nusantara (PKN) mendapatkan nomor urut 9 untuk Pemilu 2024.

Hal ini berdasarkan pengundian nomor urut partai politik peserta Pemilu 2024 yang dilangsungkan pada malam ini di kantor KPU RI, Rabu (14/12/2022).

Ketua Umum PKN, Gede Pasek, mengambil langsung bola undian berisi nomor urut tersebut.

"Kita mendapatkan nomor urut yang terbesar, nomor sembilan!" ungkap Pasek.

Partai ini sebelumnya bernama Partai Karya Perjuangan yang terdaftar pada 2008 berdasarkan keputusan Menteri Hukum dan HAM RI Nomor: M.HH-23.AH.11.01 Tahun 2008 tertanggal 3 April 2008.

Partai itu kemudian dideklarasikan ulang dengan nama baru Partai Kebangkitan Nusantara (PKN) di Jakarta pada 28 Oktober 2021 yang didirikan loyalis Anas Urbaningrum.

Pasek menyebutkan, loyalis Anas yang menjadi bagian PKN antara lain mantan anggota DPR dari Fraksi Demokrat Mirwan Amir, eks pengurus Demokrat Ian Zulfikar, aktivis HMI Asral Hardi, wartawan dan fotografer Bobby Triadi, serta Sri Mulyono yang kini menjabat sekretaris jenderal PKN.

Pasek juga pernah menjadi anggota Partai Demokrat mulai dari 2008 sampai 2014. Dia pernah menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) fraksi Partai Demokrat periode 2009-2014.

Sejak berdiri, Pasek meyakini partainya bisa ikut serta dalam Pemilu 2024.

Wednesday, June 24, 2020

Hafalan Hafiz Cilik Ahmad dan Kamil yang Harumkan Indonesia


Indonesia mempunyai dua hafiz cilik yang pernah harumkan nama bangsa di dunia.

Keduanya dikenal viral bernama Ahmad dan Kamil.

Jaringan Youtube dipenuhi dengan penampilan keduanya.

Lihat di sini:

Bingung do pe dalan tu Pakkat?
Sukkun ma di son !