Theme images by MichaelJay. Powered by Blogger.

Titulo

recent

The Slider

ahanamasa

featured posts

berita
Showing posts with label Wisata. Show all posts
Showing posts with label Wisata. Show all posts

Sunday, August 25, 2019

Polda Sumut Gelar Merah Putih Toba Bike 2019

ilustrasi


SOPO JAHA PAKKAT -- Polda Sumatera Utara menggelar Merah Putih Toba Bike 2019. Ini untuk mempromosikan event sports tourism di Danau Toba.

Kegiatan tersebut digelar sebagai bentuk nyata dukungan Polda Sumut dan jajaran dalam pembangunan dan promosi kawasan Danau Toba sebagai destinasi wisata super prioritas.

Kegiatan yang diikuti total 2.000 peserta itu terbagi dalam dua kategori, yakni Race sejauh 17,8 km dan Touring 45 km. "Kita menyambut dengan gegap gempita pembangunan kawasan wisata Danau Toba. Sekaligus juga dalam rangka memperingati hari kemerdekaan kita mengadakan Merah Putih Toba Bike 2019," kata Kapolda Sumut Irjen Agus Andrianto, usai melepas para peserta, Minggu (25/8/2019).

Ia mengungkapkan, dalam menggelar kegiatan tersebut, Poldat Sumut sengaja menggandeng komunitas sepeda. Karena ini komunitas olah raga masyarakat.

"Dengan mengendarai sepeda, para peserta bisa sambil menikmati pemandangan. Dengan maksud, supaya kita semua tau masyarakat di luar juga tau bahwa Danau Toba sekarang ini sedang dilaksanakan pembangunan yang luar biasa," tegasnya.

Selain itu, kegiatan tersebut juga bertujuan untuk menapak tilas kunjungan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi). Diharapkan, dengan even-even yang diselenggarakan, kedepan akan mengundang para investor dan mengundang para pelancong dari mancanegara.

"Itu akan menghasilkan devisa. Oleh karena itu, siapkan SDM kita. Untuk investasi yang mungkin akan besar di sektor pariwisata. Karena banyak ekosistemnya di dalam pariwisata. Ada hotel, ada restoran, ada transportasi, ada travel agent, ada rumah sakit, dan sebagainya. Banyak sekali turunannya dari pada pariwisata," tandasnya. (sumber)

Sunday, June 24, 2018

#SumutBerduka: Ulama dan Tokoh Masyarakat Batak Berdoa untuk Korban Tenggelamnya #KMSinarBangun di #DanauToba #PrayforDanauToba

 
SOPO JAHA PAKKAT -- Sejumlah ulama dan tokoh masyarakat Batak berdoa untuk korban tenggelamnya KM Sinar Bangun di Danau Toba, Sumatera Utara.

Hari ini, Tuan Syeikh Ahmad Sabban Rajagukguk, tokoh sufi dan peradaban Simalungun, melakukan shalat ghaib kepada mereka yang menjadi korban di Tigaras, Simalungun. Tigaras merupakan tujuan kapal sebelum tenggelam setelah berangkat dari Simanindo, Samosir.

Hal itu terlihat dalam sebuah postingan di akun Facebooknya:

"SHOLAT GHAIB DAN DOA UNTUK KORBAN KAPAL TENGGELAM DANAU TOBA

Kami menyeru dan mengajak seluruh kaum muslimin dan terkhusus masyarakat muslim Tigaras Kab Simalungun serta keluarga korban. Kita bermunajat, berdoa, mengadu kepada Allah dengan SHOLAT MAGHRIB BERJEMAAH, SHOLAT GHAIB, SHOLAT HAJAT DAN DOA-DOA DI MASJID AL JAMI' HIKMAH TIGARAS Kawasan terdekat titik tenggelamnya kapal tersebut," tulisnya.

Sebelumnya sejumlah tokoh lintas agama juga telah melakukan doa bersama dan tabur bunga di Danau Toba. (baca)

Tidak ketinggalan ucapakan duka dan doa juga disampaikan oleh jajaran pengurus Ikatan Pesantren Indonesia (IPI) DPC Humbahas melalui akun media sosial. (baca)

Lihat juga: Suara Duka Para Tokoh yang Masuk Bursa Capres/Cawapres2019 atas Musibah Tenggelamnya KM Sinar Bangun

Info tenggelamnya kapal kayu ini juga cepat beredar di grup whatsapp Punguan Muslim Pakkat di Jakarta dan Sekitarnya (PMPS). Mantan Ketua PMPS, H. Julkifli Marbun, MA, yang juga pernah menjadi anggota Penasihat Jamiyah Batak Muslim Indonesia (JBMI) 2012-2017, ini mengajak segenap anggota PMPS untuk melakukan doa bersama di tempat masing-masing melalui sebuah ajakan dari blog Haji Humbahas.

Tidak ketinggalan Ketua PD Muhammadiyah Tapanuli Utara, Ust. H. Elmunir Aritonang, mengungkapkan dukanya melalui akun Facebook serta memberi masukan untuk perbaikan sistem, sarana dan prasaran transportasi air di Danau Toba ke depannya. (baca)



Thursday, June 21, 2018

Bisa Dijangkau dari Pakkat, Ini Wisata Air Terjun Simolap, Simatabo, Parlilitan

 

Tuesday, June 19, 2018

#SumutBerduka: Kapal Tenggelam, Begitu Bobroknyakah Fasilitas #Wisata #DanauToba? #Eramas #Djoss

 
ilustrasi
SOPO JAHA PAKKAT -- Warga Sumatera Utara berduka dengan musibah tenggelamnya kapal di danau Toba (baca) yang sampai sekarang masih menyisakan puluhan orang hilang.

Banyak netizen menyuarakan pendapatnya di media sosial, sebegitu bobroknyakah fasilitas wisata Danau Toba? Kok tidak berizin dan tidak bermanifest? Jangan-jangan baju pelampung juga tidak tersedia.

KNKT yang bertanggung jawab dalam investigasi kecelakaan angkutan kini sudah turun tangan. (baca).

Gubernur Sumatera Utara (baca), paslon di pilgubsu Eramas (baca) dan Djoss (baca) juga turut berbelasungkawa dalam kejadian ini.

Mungkin saatnya dilakukan standarisasi fasilitas wisata di Danau Toba untuk kemajuan bersama.

Wednesday, April 18, 2018

Anggota DPR Puji Potensi Wisata Alam Humbahas

 
SOPO JAHA PAKKAT -- Wakil Ketua Komisi V DPR RI Michael Wattimena berpendapat banyaknya potensi pariwisata di Kabupaten Humbang Hasudutan, Provinsi Sumatera Utara, harus ditunjang pemajuan pembangunan infrastruktur yang baik.

Diharapkan nantinya akan menarik wisatawan untuk berkunjung, sehingga dapat meningkatkan pendapatan daerah.

“Jika biasanya kita sebagai wisatawan hanya tahu destinasi Danau Toba, tapi ternyata ada potensi pariwisata lain di Kabupaten Humbahas yang bisa dikembangkan. Jika ini mau dikembangkan, maka harus ditunjang dengan infrastruktur yang baik,” ungkap Michael Wattimena di sela-sela kunjungan kerja spesifik guna melakukan peninjauan pembangunan infrastruktur dan transportasi di Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas), Sumut, Kamis (13/7/2017).

Dalam kunjungannya yang didampingi Bupati Humbahas, mereka bersama-sama melihat kondisi infrastruktur khususnya bidang pariwisata yang ada di Kabupaten Humbahas.

Menurut pantauan Michael, kondisi jalan tampak rusak parah. Ia pun berharap pembangunan infrastruktur pariwisata dapat segera dipercepat.

“Oleh karena itu, Komisi V DPR merasa perlu mendorong masalah ini dalam anggaran tahun 2018. Secepatnya kami akan lakukan rapat dengan mitra dari Komisi V DPR terkait dengan pembangunan infrastruktur dalam menunjang pariwisata yang ada di Kabupaten Humbahas,” ujar Michael.

Hal senada juga diungkapkan Anggota Komisi V DPR Anthon Sihombing. Politisi F-PG itu turut mendorong percepatan pembenahan infrastruktur pariwisata yang ada di Kabupaten Humbahas. Menurutnya, berbagai potensi yang ada di Humbahas, dipastikan menarik untuk dikunjungi wisatawan.

“Objek-objek wisata yang indah dan bersejarah sangat banyak di sini. Ada Danau Toba, arung jeram, kita juga bisa melihat taman bunga yang sebelumnya juga sudah pernah dikunjungi oleh Presiden Jokowi, lalu ada makam Sisingamangaraja XII. Dengan panorama yang indah dan bersejarah itu, tentunya ini akan mengundang wisatawan untuk berkunjung. Maka dari itu pembangunan infrastruktur ini harus kita dorong,” ungkap Anthon.

Pada kesempatan yang sama, Bupati Humbahas Dosmar Banjarnahor menilai kedatangan Tim Komisi V DPR merupakan sebuah momentum demi terselenggaranya pembangunan infrastruktur di daerah yang dipimpinnya.

“Oleh karena itu kami berharap, dengan adanya kunjungan Komisi V DPR ini, Kabupaten Humbahas bisa mendapatkan porsi anggaran yang pas dan tepat agar ekonomi masyarakat bisa berkembang dan meningkat di kemudian hari,” harap Dosmar. (sumber)

Saturday, July 29, 2017

Sian Pakkat Mardalani tu Barus

 
Molo ari minggu mardalani ma Parpakkat tu Barus mamereng pantai.

Holan 30 menit do pardalanan. Tabo do hape molo marlange di Pantai Sitiris-tiris

Bereng ma di toru on keindahan ni panorama Barus.


Wednesday, April 05, 2017

Wisata Peternakan Sapi untuk Pendidikan Anak dan Keluarga

 
Aceh punya banyak pilihan destinasi untuk liburan keluarga. Berbasis peternakan, ini wisata edukasi kambing perah di Banda Aceh, UD Atjeh Livestock Farm.

Setiap perjalanan wisata pasti beda, beda lokasi beda pula yang di lihat! Di Aceh tepatnya di Banda Aceh kita bisa berwisata edukasi mengajak putra putri untuk melihat langsung salah satu peternakan kambing perah yang unik dan menarik.

Di salah satu sudut kota Banda Aceh perbatasan Aceh Besar terdapat peternakan kambing perah milik UD Atjeh livestock Farm. Di sini terdapat banyak kambing yang bisa di perah susunya.

Ketika traveler berbaur dengan salah satu grup belajar Rumah Belajar Madani yang sedang melakukan tour edukasi di lokasi ini, tampak banyak kambing peliharaan yang sangat terawat di kandangnya ditambah dengan dukungan pakan yang terlihat di sekitar peternakan yang hijau dan subur.

Di peternakan ini juga tersedia susu kambing segar organik yang bisa langsung kita minum dengan harga yang terjangkau. Dalam tour edukasi ini, anak-anak antusias mendengarkan dari awal sampai akhir acara. Penjelasan di berikan oleh salah seorang mahasiswa yang sedang magang di lokasi peternakan ini.

Selain kambing terdapat juga sapi yang di ternakkan di sini, anak-anak bisa langsung mencoba memerah sapi untuk di ambil susu segarnya, namun sesuai arahan pendamping! Lokasi peternakan ini tak jauh dari Komplek Pelajar Mahasiswa Universitas Syiah kuala,yang berlokasi di bantaran sungai Krueng Cut sekitar jembatan Lamnyong arah Fakultas Teknik via Jalan Lingkar.

Nah, jika berwisata ke Banda Aceh jangan lupa singgah di peternakan ini dan mencoba langsung susu Kambing segar organink cocok untuk kesehatan. Setiap perjalanan wisata pasti beda, beda lokasi beda pula yang di lihat!

Selain kambing terdapat juga sapi yang di ternakkan di sini, anak-anak bisa langsung mencoba memerah sapi untuk di ambil susu segarnya, namun sesuai arahan pendamping! Lokasi peternakan ini tak jauh dari Komplek Pelajar Mahasiswa Universitas Syiah kuala,yang berlokasi di bantaran sungai Krueng Cut sekitar jembatan Lamnyong arah Fakultas Teknik via Jalan Lingkar.

Nah jika berwisata ke Banda Aceh, jangan lupa singgah di peternakan ini dan mencoba langsung susu Kambing segar organink cocok untuk kesehatan. (sumber)

Friday, March 31, 2017

Barus Kembali Terkenal Setelah Dikunjungi @Jokowi, Pakkat Bisa Dapat Berkah Wisata

 
Barus kembali terkenal setelah dikunjungi Presiden Joko Widodo (baca). Presiden berziarah ke Makan Mahigai dan beberapa situs terkenal.

Momen ini menjadi penting karena usai kunjungan presiden, Barus disebut ramai dikunjungi oleh wisatawan yang ingin tahu mengenai Barus, situs-situs bersejarahnya dan keindahan alamnya.

Pakkat, yang dulu merupakan bagian dari Barus Hulu, dan sekarang berada di Kabupaten Humbang Hasundutan, akan kecipratan berkahnya karena merupakan jalur paling dekat menuju Barus dari Medan.

Jalur Medan, Sidikkalang, Dolok Sanggul, Pakkat dan Barus lebih dekat dari Medan, Siborong-borong, Tarutung Sibolga dan Barus.

Namun, bagi yang datang dari Aceh, wisatawan akan memilih langsung dari Singkil, menyeberang ke Manduamas lalu ke Barus.

Selain itu, angkutan umum juga tersedia sejak dahulu kala dari rute Medan-Pakkat-Barus.

Melalui jalur dari Pakkat, wisatawan juga bisa berkunjung ke beberapa tempat wisata yang dilalui seperti Berastagi, Taman Wisata Iman Sitinjo, Tele, Bakkara lalu ke Pakkat dengan berbagai panorama alamnya yang indah sebelum turun ke Barus.

Thursday, March 16, 2017

5 Argumen Mengapa Humbahas Layak Punya Bandar Udara Perintis di Pakkat

 
Humbang Hasundutan memiliki wilayah yang cukup luas, sebagian besar adalah perbukitan.

Untuk mencapai Humbang Hasundutan bisa dilakukan melalui Bandar Udara Silangit di Tapanuli Utara.

Akan tetapi, wilayah yang layak tempuh dari Silangit hanya Dolok Sanggung, Bakkara dan sekitarnta. Beberapa kecamatan lain seperti Pakkat, Tarabintang dan Parlilitan masih jauh dari jangkauan, bahkan sebagian lebih memilih menggunakan bandara Kuala Namu, dengan jalur darat Dairi.

Untuk itu, sudah menjadi layak apabila Humbang Hasundutan memiliki bandar udara perintis sendiri, yang tepatnya berada di Pakkat.

Berikut beberapa argumennya.

1. Bila Bandara Udara perintis ada di Pakkat, hal itu akan tepat berada di tengah-tengah Humbahas, baik ke Dolok Sanggul sekitarnnya, ke Parlilitan maupun Tarbintang.

2. Jarak antara Pakkat ke Bandara sekitar seperti Silangit di Tapanuli Utara, Pinang Sori di Tapanuli Tengah atau bahkan renacana bandar udara perintis Dairi hampir sama. Juga bisa ditambahkan ke Bandar Udara Syeikh Hamzah Fansuri di Singkil. Sehingga lokasinya sangat layak.

3. Bandar Udara perintis di Pakkat akan mewakili 3 kecamatan paling terisolir karena konstruksi jalan yang selalu rusak akibat musim, sebagai alternatif transportasi bila jalan benar-benar putus. Landasan juga dapat difungsikan untuk misi bantuan kemanusiaan dalam kasus bencana bumi, olahraga, wisata dan lain sebagainya.

4. Selain Tara Bintang dan Parlilitan, kemungkinan penumpang bisa berasal dari kecamatan-kecamatan di Tapanuli Tengah yang jadu dari bandara, seperti Baru, Manduamas, Andam Dewi dan lain sebagainya.

5. Sekarang ini sudah ada peraturan BUMDes, sehingga legislatif di tingakt Kabupaten tidak perlu direpotkan pembangunanya yang sekarang kabarnya sedang menggagas BUMD.  (baca) Pengelolaan bandara perintis dapat dilakukan oleh BUMDes dengan bekerja saja dengan instasi dan pihak yang terkait dalam perizinan penerbangan. (baca)


Monday, February 13, 2017

Aplikasi Polisiku, Bisa untuk Pengaduan, UGD dan Lain-Lain

 
Kepolisian Republik Indonesia meluncurkan aplikasi yang dapat digunakan oleh masyarakat yang sedang membutuhkan bantuan polisi, Minggu (18/12/2016).

Seperti dikutip dari Tribratanews.com, portal resmi milik kepolisian RI, aplikasinya itu bernama 'Polisiku'.

Aplikasi yang bisa ditanam pada smartphone Android atau iOS (Apple Phone) mempunyai tujuan yang sama yakni untuk mempermudah pelayanan Polri.

Masyarakat saat ini dapat dengan mudah mendownloadnya dari PlayStore dan AppleStore.

 Aplikasi PolisiKu bertujuan dan berfungsi agar publik merasa nyaman dan mudah berinteraksi dengan polisi, dimanapun sedang berada.

Aplikasi ini mempunyai empat menu utama yaitu Cari Layanan Polisi Terdekat, Cari Layanan Polisi di Kota Lain, Pengaduan Tindakan Polisi, Halo Polisiku (Keluhan dan Apresiasi kepada Polisi).

Pada menu pertama “Mencari Layanan Polisi Terdekat” Dengan fasilitas GPS, akan dapat tampil 10 titik layanan yang terdekat dengan posisi pengguna, dan dapat langsung menelpon pos layanan kepolisian terdekat.

Selain itu tersedia juga data layanan Samsat, UGD, Damkar dan SPBU, dalam rangka Polri lebih ingin membantu kebutuhan publik.

Pada menu kedua “Mencari  Layanan Polisi di Kota Lain” Pengguna juga bisa mencari layanan polisi di kota lain yang diinginkan.

Ini berguna untuk menolong keluarga atau teman di kota tersebut.

Sumber

Saturday, August 27, 2016

Cuaca Buruk Bisa Ganggu Pertumbuhan Salak

 
Gangguan cuaca yang terjadi selama beberapa pekan terakhir rupanya berdampak bagi petani salak di kawasan lereng Gunung Merapi Sleman. Selain muncul ulat salak, cuaca buruk juga diklaim petani menganggu pertumbuhan buah salak.

Ridwan Pengurus Kelompok Tani Salak Mitra Tani Desa Bangunkerto Turi Sleman menjelaskan, ia termasuk petani yang melakukan pengamatan selama setahun terakhir. Adanya cuaca buruk menimbulkan dampak bagi pertumbuhan buah salak. Bentuk cuaca buruk yang dimaksud dia adalah kondisi cuaca sangat panas namun secara tiba-tiba hujan deras disertai angin kencang.

“Kami merasakan sangat berdampak sekali antara cuaca buruk dengan pertumbuhan salak,” terangnya akhir pekan lalu.

Salahsatu dampak yang ia rasakan adalah terjadinya penurunan berat salak sehingga salah tetap terlihat kecil. Menurutnya hampir semua salak di lahan miliknya terjadi penyusutan nyaris 50% ukurannya dan semakin mengecil. Ridwan mengakui memang tidak semua petani mengamati fenomena ini karena banyaknya lahan di wilayah Sleman. “Kalau musim seperti ini hasilnya tidak seberapa. Memang saat ini bukan musim panen raya, tapi kondisi cuaca dua tahun terakhir ini beda yang dampaknya salak menjadi lebih kecil,” kata dia.

Beda petani beda keluhan. Adanya cuaca buruk rupanya secara spesifik berdampak pada timbulnya sejenis hama seperti ulat buah. Menurut Petani Sala Hargobinangun Pakem Suharno, ulat buah seringkali muncul saat musim hujan yang secara terus menerus. Kondisi itu jelas merugikan petani karena membuat panenan berkurang. (sumber)

Harga Salak di Banjarnegara Melonjak Naik

 

Dalam tiga pekan terakhir, harga salak pondoh di Kabupaten Banjarnegara mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Harga salak yang semula kisaran Rp 3 ribu per kilogram, naik menjadi Rp 7 ribu per kilogram. Salah satu petani salak, Mardiyono mengatakan, kenaikan harga salak pondoh lantaran jumlah panen yang terus berkurang.

Petani salak asal Desa Gununggiana Kecamatan Madukara ini mengungkapkan, menurunnya hasil panen dipengaruhi cuaca buruk yang terjadi tahun lalu. “Yang saat ini saatnya panen, itu yang dulu masih berbunga. Karena saat itu terjadi kemarau panjang, akhirnya banyak salak yang tidak bertahan sampai tua,” ujarya, Selasa (9/8). Serangan hama tikus, juga membuat hasil panen salak terus berkurang. Padahal, kata dia sebelumnya buah salak di daerahnya tidak terkena hama tikus.

“Dari buahnya sudah sedikit, yang tinggal dipanen malah dimakan tikus,” keluhnya. Petani salak lainnya, Ridwan, mengungkapkan hal yang sama. Saat ini, meski harga salak mengalami kenaikan, namun petani diresahkan dengan serangan hama tikus.

Ia mengaku bingung untuk membrantas hama tersebut. “Sudah buah salak lagi sedikit, petani harus berebut dengan tikus,” kata dia. Pedagang salak, Edi mengaatakan, lantaran jumlah salak menurun, dia sampai membagi jam kerja untuk karyawannya. Hal tersebut terpaksa dilakukan agar dirinya tidak perlu mengurangi upah. “Karena sekarang jumlah salaknya sedikit, maka kami menerapkan selang-seling. Jadi hari ini bekerja memilah-milah salak, besoknya libur,” ujarnya.

Hal ini dia terapkan selama persediaan buah salak masih sedikit. Ia mengirimkan buah salak Banjarnegara ini ke berbegai daerah. Seperti Tulungagung, Banyuwangi hingga Denpasar.  (sumber)

Selain Apel, Malang Ternyata Identik dengan Salak

 
Walaupun identik dengan buah apel, wilayah Malang Raya sebenarnya memiliki berbagai varian buah lain yang menjadi ciri khas dari sebuah daerah tertentu dan identik dengan tempat tersebut. Identitas itu dapat muncul dan diakui melalui penamaan sebuah daerah yang menempel terhadap buah tersebut. Nah, salah satu varian buah yang cukup identik dengan daerah dan terkenal adalah Salak Swaru.

Swaru sendiri merupakan sebuah daerah yang terletak di Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang dan cukup terkenal karena salak produksi wilayah mereka. Ketika melintasi wilayah Swaru sendiri maka akan terlihat cukup banyak penjual Salak di sebelah kanan dan kiri yang menjajakan dagangan mereka.

Walaupun masih kalah pamor dibanding salak pondoh atau salak Bali, salak Swaru memiliki penggemarnya sendiri terutama di wilayah Malang. Secara rasa, memang salak Swaru tidak semanis dua jenis salak lain yang lebih terkenal tersebut. Rasa dari salak Swaru cenderung lebih ke perpaduan manis, asam, dan sepat.

Walaupun dikenal dengan nama salak Swaru, bibit buah salak ini sesungguhnya berasal dari wilayah Pasar Minggu, Jakarta. Pada masa lalu di wilayah ini tumbuh banyak kebun salak secara liar. Ketika ditemukan, bibit salak ini pertama kali tidak langsung ditanam ke wilayah Swaru namun dicoba di Bululawang.

Iklim dan kandungan tanah yang berbeda menyebabkan buah salak ini memiliki rasa yang berbeda dan tidak tumbuh secara sempurna. Oleh karena itu coba ditanam kembali di lahan lain dan tempat itu adalah Swaru yang terletak lebih selatan. Ternyata tempat tersebut sangat cocok dan berkembanglah salak swaru yang dikenal kini.

Pada masa lalu, salak Swaru sempat dianggap sebagai salah satu varian salak terbaik yang ada di Indonesia. Penghargaan itu diterima pada penyelanggaraan kontes buah salak dan nangka di tahun 1990. Waktu itu Salak Swaru berhasil menyisihkan jenis salak yang lain.

Namun sayangnya kurang inovatifnya pengembangan serta pengolahan lebih lanjut dari varian ini membuatnya menjadi kini kurang terkenal dan menjadi ikon Malang mendampingi apel. Bahkan lebih buruk lagi, karena semakin turunnya harga salak Swaru, banyak petani yang dulu menanam salak berganti menjadi menanam tebu.

Selain itu distribusi yang tidak terlalu baik juga menjadi persoalan. walaupun Swaru berjarak tak terlalu jauh dari kota Malang namun buah satu ini tidak terlalu mudah dijumpai di penjual buah. Hal ini yang menyebabkan lebih banyak orang membeli salak pondoh yang mudah ditemui.

Sebagai sebuah varian salak yang khas dari wilayah malang, Swaru harusnya mampu menjadi ikon yang setara dengan apel. Jika kondisi salak Swaru hingga saat ini masih dikesampingkan dan tidak menjadi perhatian lebih lanjut, maka varian salak khas Malang ini akan bernasib semakin malang. (sumber)

Tuesday, January 30, 2007

Wisata Pakpak Barat

 
Pakpak Bharat Siapkan 11 Objek Alam dan Budaya untuk Unggulan Pariwisata

Jan 29, 2007 at 08:42 AM
Pakpak Bharat (SIB)

Daerah Kabupaten Pakpak Bharat, setelah mekar dan mandiri dari Kabupaten Dairi, kini menetapkan sedikitnya 11 obyek alam dan objek budaya peninggalan sejarah, sebagai objek unggulan sektor pariwisata yang tengah dikelola secara bertahap untuk ditawarkan kepada para wisatawan nusantara (lokal) maupun para turis mancanegara.

Ke-11 objek itu terdiri dari sembilan objek alam dan dua unit objek budaya peninggalan sejarah. Objek wisata berupa unsur alam itu adalah air terjun Sindates Lae Mbilulu di Desa Parongil Kecamatan Kerajaan, air terjun Lae Une di Desa Kecupak Kec.Salak, air terjun Lae Singgabit di Desa Mahala Kuta Delleng Kec.Kerajaan, air telaga Lae Kombih Namo Kirem di Desa Mahala Kuta Delleng Kec.Kerajaan, Danau Sicike-Cike di Desa Siempat Rube Dua Jambu, Kec.Kerajaan, Bukit Delleng Sibudun di Desa Tanjung Mulia Kec.Sitelu Tali Urang Jehe, bukit Banua Harhar di Desa Namuseng Kec.Salak, gua Liang Karing di Desa Pardomuan Kec.Salak, dan gua alami Liang Tojok di Desa Siempat Rube Dua Kecamatan Kerajaan.

Sedangkan kedua objek budaya peninggalan sejarah itu adalah benteng terakhir perjuangan si Raja Batak Sisingamangaraja XII di Desa Traju Kecamatan Kerajaan, dan patung mejan bebatuan kuno Elluh Beru Tinambunan di Desa Ulu Merah Kecamatan Kerajaan. Selain itu, sebagaimana disaksikan SIB di lapangan, masih terdapat sejumlah objek budaya berupa makam-makam raja atau para tetua suku Pakpak yang dinilai potensial dijadikan objek wisata masa depan. Misalnya rumah adat kuno peninggalan Raja Ulu Merah, Tugu Marga Sinamo, dll.

“Mungkin sesuai dengan namanya : “Kerajaan,” objek-objek wisata unggulan di Pakpak Bharat sementara ini memang tampak lebih banyak terdapat di wilayah Kecamatan Kerajaan. Kami berharap dan optimis suatu saat nanti daerah ini akan menjadi salah satu pilihan dan tujuan kunjungan wisata bagi para turis, sebagaimana potensi wisata daerah lainnya,” ujar Nasib Mungkur SH, Camat Kerajaan kepada SIB di ruang kerjanya.

Dalam risalah mini Profil Daerah Kabupaten Pakpak Bharat dengan semboyan ‘Bage Ate Rejeki Bage Tennah Sodip’ (bagaimana rencananya, begitulah pelaksanaannya) yang ditandatangani Bupati Pakpak Bharat Ir Muger I Herry Berutu MBA dan Wakil Bupati H Makmur Berasa SH, memang menegaskan bahwa potensi pariwisata di daerah itu (Pakpak Bharat) sangat erat hubungannya dengan potensi alam dan potensi budaya yang dapat diandalkan di masa sekarang maupun di masa mendatang.

Potensi wisata daerah tersebut, meliputi objek-objek wisata alam di kawasan hutan Taman Nasional Bukit Barisan, yang memang kaya akan keanekaragaman hayati seperti berbagai jenis tumbuhan flora dan fauna hutan tropis pegunungan. Potensi tersebut memang relatif sama dengan potensi yang ada di kawasan hutan Taman Nasional Bukit Barisan di wilayah daerah lainnya, namun potensi di Pakpak Bharat yang terdapat di areal atau medan wisata yang berbukit-bukit dengan kondisi keterjalan alam yang khas, menjadikan objek wisata alam di daerah ini lebih spesifik dan unik.

“Pada aspek lain, potensi pariwisata di Pakpak Bharat juga mengandung nilai plus karena bisa diprospekkan sebagai objek wisata yang bernilai agribisnis, ekoturisme, dan avonturisme,” ungkap Monar Bancin, seorang pengusaha di Salak, ibukota Kabupaten Pakpak Bharat.

Friday, June 02, 2006

Pariwisata Bonapasogit

 
ilustrasi
Sebuah kritik patut diarahkan untuk pembagungan yang holistik dan menyelurush di Bonapasogit. Khususnya, daerah Toba Samosir (Tobasa) dan daerah Humbang Hasundutan (Humbahas), melainkan hanya sekedar studi pengembangan industri pariwisata lintas kebudayaan yang juga dapat menjadi wacana pengembangan pariwisata di seluruh daerah-daerah di Indonesia dengan memanfaatkan potensi daerah (local genius) yang dimiliki oleh daerah masing-masing.
Daerah Sumatera Utara memiliki banyak obyek wisata yang sudah terkenal sampai ke manca negara karena keindahan alamnya, walaupun belakangan ini harus diakui jumlah wisatawan sangat jauh berkurang disebabkan oleh beberapa faktor. Terlepas dari masalah tersebut, daerah-daerah yang dimekarkan dengan otonomi daerah “harus” berbenah untuk membenahi obyek-obyek wisata di daerah masing-masing.

Selain alam yang indah sebagai anugerah Tuhan, banyak obyek-obyek yang dapat didesain dan dikembangkan menjadi obyek wisata yang menarik hati orang lain untuk mengunjunginya. Budayawan Sitor Situmorang menyebutkan wisatawan pada umumnya dapat dianggap semacam antropolog dan sosiolog amatiran; ia datang mengunjungi obyek wisata karena tertarik akan kombinasi faktor alam dan kebudayaan. Artinya, wisatawan selain menikmati keindahan alam wisatawan juga ingin menambah pengetahuannya dalam hal sosio kultural yang merupakan spesifikasi sesuatu daerah yang mungkin tidak dimiliki daerah yang lain seperti nilai-nilai budaya, adat istiadat, ritual agama, kesenian, artifak, arsitektur dan lain-lain yang bersifat local genius. Untuk itu sangat diperlukan inovasi dan kreativitas dari para pejabat dalam hal ini yang dibidangi oleh Dinas Pariwisata kebudayaan dan kesenian untuk menciptakan dan mengembangkan nilai-nilai historis yang ada pada suatu daerah.

TOBA SAMOSIR

Daerah Toba Samosir harus diakui memiliki panorama alam yang sangat indah dan mempesona, tetapi tanpa pembenahan dengan sentuhan estetika dan artistik tidak akan memiliki kelebihan dengan obyek wisata lain, bahkan mungkin tidak dapat mengimbangi obyek wisata di kota toris Parapat. Dengan demikian para wisatawan kalau hanya ingin menikmati keindahan alam Danau Toba mungkin tidak akan melanjutkan perjalanan ke daerah Toba Samosir Balige karena hanya membuang waktu dan dana. Lalu upaya apa yang akan dilakukan Pemda Tobasa untuk meningkatkan pariwisata di daerah tersebut? Uraian berikut ini adalah merupakan alternatif yaitu mengembangkan potensi dan nilai-nilai budaya daerah.

1. MENDIRIKAN PUSAT DOKUMENTASI DAN INFORMASI KEBUDAYAAN (PDIK)

PDIK ini sebenarnya adalah mengadopsi apa yang telah dibuat oleh daerah-daerah lain seperti yang telah dibuat Pemda Padang Panjang yang disebut Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau. Bentuk seperti ini sangat perlu didirikan di setiap daerah di Indonesia yang dapat memberikan informasi dan pengetahuan bagi setiap wisatawan yang sengaja (terencana) berkunjung ke daerah obyek wisata.

Sudah saatnya Pemda Tobasa mendirikan Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Tobasa (PDIKT), apakah itu didirikan pada suatu areal tertentu di Balige menyerupai anjungan Daerah Batak Toba di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) atau membenahi suatu perkampungan di salah satu desa di daerah Tobasa yang masih memiliki karakter perkampungan (parhutaan) tradisional. Disini akan ditemukan arsitektur rumah-rumah adat tradisional dengan bentuk ruma dan sopo lengkap dengan ornamen (gorga) yang original pula. Di tempat ini juga akan dijumpai berbagai informasi tentang perkembangan agama (religi) sejarah perjuangan Raja Sisingamangaraja XII yang makamnya ada di Balige. Benda-benda (artifak) seperti benda pakai, hombung, sapa, harpe, hudon toba, sahan, Tongkat Tunggal Panaluan, dan lain-lain.

Berbagai jenis ulos Batak Toba dengan alat-alat tenun beserta dengan penenun yang terampil dan sekaligus memiliki pengetahuan tentang eksistensi ulos. Banyak kelompok akademis harus pulang dengan kecewa dari daerah Tobasa karena tidak menemukan data informasi tentang benda-benda tradisional seperti ulos, peti mati yang disebut rumaruma atau parmualmualan solu bolon tentang fungsi dan makna simbolik bentuk, ornamen yang terdapat pada benda-benda pakai.

Ritus keagamaan khususnya agama tradisional yang masih lestari sampai sekarang dapat dibuat agenda wisata seperti ngaben di Bali, melarung di daerah Jawa, huyak tabuik di Sumatera Barat. Apakah ritus agama Parmalim tidak dapat diagendakan sebagai obyek wisata didaerah Tobasa? Demikian halnya dengan pagelaran Seni Budaya yang dapat dikemas dalam satu paket “Pesta Budaya” menampilkan upacara adat yang sudah langka seperti, mangalahat horbo, martutu aek, visualisasi penggunaan sahan, tongkat tunggal panaluan, opera Batak dengan menggunakan teknologi standar pementasan, dan perlombaan yang digali dari budaya Batak Toba.

2. WISATA ROHANI DENGAN LATAR BELAKANG SEJARAH

Mungkin belum banyak orang mengetahui bahwa di Kabupaten Tobasa tepatnya di Kecamatan Sigumpar yang baru dimekarkan terdapat makam keluarga IL Nommensen Apostelnya orang Batak. Sementara di Kabupaten Tapanuli Utara terdapat obyek wisata rohani yang disebut salib kasih di Siatas Barita. Obyek wisata ini luar biasa ramainya dikunjungi para wisatawan lokal bahkan dari manca negara.

Apa daya tariknya? Konon di daerah inilah pertama sekali Nommensen menginjakkan kaki di daerah Batak. Lalu oleh Pemda Kabupaten Tapanuli Utara dibangunlah tugu salib yang boleh dikatakan cukup spektakuler lengkap dengan penataan pertamanannya dan sampai sekarang masih terus dibenahi. Kenapa gereja yang memiliki latar belakang sejarah perkembangan agama Kristen di daerah Batak Toba dan makam keluarga IL Nommensen di Sigumpar tidak menarik minat para wisatawan berkunjung ke sana? Jawabannya karena tidak ditata secara apik sebagaimana obyek wisata rohani lainnya seperti di bukit Sitinjo di Kabupaten Dairi yang sudah memiliki standar obyek wisata walaupun tanpa memiliki latar belakang sejarah. Lokasi gereja dan makam keluarga IL Nommensen di Tobasa Kecamatan Sigumpar sudah saatnya segera dibenahi menjadi Taman Wisata Rohani dengan standar obyek wisata.

Membangun narasi visualisasi pelayanan IL Nommensen di daerah Batak sampai akhir khayatnya dalam bentuk patung dan relief dengan menerapkan prinsip-prinsip pertamanan dan merupakan satu kesatuan (unity) antara elemen narasi visualisasi pelayanan Nommensen, gereja sebagai tempat beribadah (sudah ada di lokasi), makam keluarga IL Nommensen dengan aura rohani yang tampil beda dengan makam-makam yang ada di daerah Tobasa yang dilatar belakangi pemandangan indah alam Danau Toba.

Tobasa Juga merupakan wilayah pertama di Kerajaan Batal yang memeluk agama Islam.Situs Mesjid di Porsea yang dekat dengan muara sungai asahan, telah berdiri mesjid sejak abad 14-15 yang lalu. Mesjid ini didirikan oleh komunitas pedagang dan saudagar Batak yang berasal dari marga Marpaung.

Kelompok Marga Marpaung inilah yang berjasa menghubungkan pedalaman Batak dengan perkotaan pesisir Timur Sumatera seperti di Asahan dan Tanjung Balai. Produk dan komoditas yang sangat dibutuhkan oleh daerah pedalaman Batak yang terisolir berhasil dipenuhi oleh kelompok ini.

Di sisi lain, untuk mendukung armada karavan perdagangan ke pesisir, setiap beberapa kilometer dibangun juga mesjid-mesjid persinggahan. Semua situs ini merupakan prospek pariwisata yang sangat menakjubkan bila dihidupkan kembali.

Marga Marpaung dengan generasinya Tuanku Marpaung, berhasil mendirikan kerajaan Asahan yang Islam di daerah pesisir Timur Sumatera.

Situs lain yang tidak kalah penting yang telah berumur berabad-abad adalah mesjid-mesjid di Tarutung. Kelompok Marga Hutagalung yang merupakan saudagar kaya pada abad 14-16 Masehi merupakan kelompok yang pernah membangun puluhan mesjid di Lembah Silindung. Beberapa mesjid itu kemudian dibongkar paksa dan diruntuhkan oleh pemerintah penjajah Belanda dengan tujuan misi kolonial. Warga lokal Hutagalung diusir dari tanah pusaka mereka.

Sebagai bentuk atas jasa para nenk moyang Batak ini, perlu dikembangkan pusat-pusat pengembangan dan penghidupan kembali situs-situs mereka yang sangat berguna dalam pembangunan masyarakat Batak Pra-Kolonial. Situs-situs tersebut merupakan asset Pariwisata yang tidak tertandingi harganya.

HUMBANG HASUNDUTAN

Dari generasi ke generasi lagu “Aek Sibundong” terus berkumandang mengiringi perjalanan hidup masyarakat yang berasal dari daerah Humbahas di bona pasogit maupun di perantauan. Lagu tersebut mengandung thema cinta kasih dengan memaparkan keindahan aliran Sungai Sibundong yang boleh disebut membelah ibukota daerah Humbang Hasundutan yaitu Dolok Sanggul.

Orang yang mendengar alunan irama beserta syair-syair lagu yang sangat menyentuh hati itu pasti penasaran seindah apa sih Aek Sibundong dan daerah Dolok Sanggul itu benarkah seperti pada syair lagu itu? Tunggu dulu! Sebelum dibenahi dengan sungguh-sungguh anda akan kecewa karena kenyataannya airnya sangat keruh dan pinggiran sungai yang ditumbuhi semak belukar. Untuk itu Pemda Kabupaten Humbahas sangat tepat membenahi sungai Sibundong ini menjadi obyek wisata sekaligus memperindah kota Doloksanggul. Mereklamasi sungai tersebut dengan membuat pertamanan dan lampu-lampu hias, membuat tempat rekreasi di beberapa bahagian sungai di sepanjang sungai yang melalui kota Doloksanggul. Kalau mungkin membendung sungai Sibundong menjadi Danau Kecil pada tempat yang sesuai di daerah sekitar Dolok Sanggul.

1. KUDA

Makanan khas daerah Humbahas adalah daging kuda. Sebab itulah pada era tujuh puluhan setiap bus yang berasal dari Doloksanggul yang melalui Toba sampai ke Medan selalu diteriaki (diejek?) “hoda” (kuda). Sebabnya itu tadi, penduduk Humbahas sedikitnya mengkonsumsi dua ekor kuda setiap hari, satu bulan kira-kira 60 ekor, satu tahun 60 ekor x 350 hari = 21.900 ekor. Suatu angka yang fantastik walaupun tidak ada peternakan kuda yang dikelola secara professional di daerah Humbahas.

Berbagai daerah di Indonesia sosok kuda sering digunakan menjadi sarana obyek wisata bukan untuk dikonsumsi, misalnya didaerah istimewa Yogyakarta sampai saat ini “delman” atau yang disebut andong, di daerah Batak Toba disebut Sado masih tetap menjadi ciri khas untuk menunjang pariwisata di daerah tersebut. Di daerah Kabupaten Karo tepatnya di Berastagi, kuda juga digunakan sebagai penunjang industri pariwisata dan di berbagai daerah di Indonesia ini. Pemda Kabupaten Humbahas melalui Dinas Pariwisata harus berfikir dan membuat terobosan baru mengobah paradigma penduduk Humbahas bahwa kuda bukan hanya hewan piaraan yang hanya untuk dimakan tetapi dapat diobah menjadi hewan untuk industri pariwisata. Misalnya mengadakan perlombaan kuda (hoda marsiadu), seperti pernah dilaksanakan di Kabupaten Tapanuli Utara, Siborongborong. Artinya, obyek wisata ini bukanlah hal yang mustahil untuk dibuat dalam program jangka panjang atau jangka pendek. Banyak yang dapat dilaksanakan kegiatan wisata dengan sosok kuda, lomba kuda tercantik (lomba tata rias kuda), lomba kuda beban (hoda boban), penunggang serasi wanita dan pria dan lain-lain.

2. BAKKARA DAN LATAR BELAKANG SEJARAH

Pemandangan alam Bakkara yang terletak di Kabupaten Humbahas memiliki keindahan alam yang tidak kalah indahnya dengan keindahan alam lainnya di pinggiran Danau Toba. Ada keistimewaan keindahan alam di Bakkara dibanding dengan obyek wisata lainnya yaitu alamnya yang masih natural (alamiah) dikelilingi bukit berhutan yang masih “sehat” yang sangat cocok untuk wisatawan yang memiliki hobby menjelajah hutan (tracking). Walaupun daerah Bakkara berada di kaki bukit pinggiran Danau Toba sarana jalan pun sudah dibenahi dan dapat pula dilalui mobil, selain dapat menggunakan perahu-perahu dari berbagai pelabuhan di Danau Toba.

Mungkin tidak banyak lagi orang yang mengetahui khususnya generasi muda bahwa daerah Bakkara adalah suatu tempat yang memiliki sejarah yang sangat penting bagi perjalanan bangsa ini. Sebab, dari daerah inilah berasal Pahlawan Nasional yang sangat gigih mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia ini dari penjajahan Belanda yaitu Pahlawan Nasional Sisingamangaraja XII. Naluri keingintahuan kita akan muncul, dimanakah jelasnya kampung, rumah, istana Raja Sisingamangaraja XII.

Harus kita akui pengabadian nama sebagai penghormatan khususnya kepada Pahlawan Nasional Sisingamangaraja XII sudah banyak dilakukan pemerintah dan tokoh-tokoh orang Batak seperti yang dilakukan bapak DR GM Panggabean dengan seluruh personalnya di dalam naungan organisasi “Lembaga Sisingamangaraja XII”. Banyak kegiatan yang dilaksanakan untuk mengenang dan menghormati jasa Pahlawan Nasional tersebut. Antara lain pemberian nama universitas yaitu Universitas Sisingamangaraja XII yang sudah kesohor itu. Sangat disayangkan, gaung dan aktivitas yang mencakup sampai ke bidang sosial kultural Lembaga Sisingamangaraja itu tidak terdengar lagi pada saat sekarang.

Untuk itu Pemda Kabupaten Humbahas harus tanggap untuk memanfaatkan latar belakang sejarah perjuangan Sisingamangaraja XII sebagai ujung tombak obyek wisata didaerah Bakkara dan merupakan tanggung jawab moral untuk menghormati kepahlawanan Raja Sisingamangaraja XII sebagai Pahlawan Nasional. Banyak obyek wisata yang dapat dikembangkan untuk menarik minat para wisatawan. Selain alamnya yang indah, antara lain melanjutkan pemugaran istana Raja Sisingamangaraja I s/d XII. Mendirikan Laboratorium Pusat Dokumentasi dan Pengkajian Kebudayaan Batak disamping mendirikan museum Batakologi sebagai visualisasi sejarah perjalanan etnis Batak Toba.

3. KERAJAAN BARUS HULU

Ini juga merupakan potensi pariwisata yang sangat berharga. Kerajaan Barus Hulu yang merupakan pecahan dari Kerajaan Hatorusan Kuno yang berdiri sejak abad ke-10 SM, oleh pendirinya Raja Uti alias Raja Biak-Biak, adalah kerajan lama yang sekarang berada di HUmbahas.

Kerajaan Barus Hulu atau yang disebut Onderafdeling Bhoven Barus, beribukota di Pakkat, oleh pemerintah kolonial Belanda mencakup beberapa Provinsi di antaranya: Negeri Rambe, Negeri Sionomhudon, Negeri Tukka, Negeri Siambaton, Negeri Sijungkang dll, yang sekarang wilayahnya masuk ke Kab. Humbahas

Berdiri sekitas 10-13 Masehi, merupakan kerajaan kuno yang patut dipertahankan prospek sejarahnya. Sehingga para turis akan diberi suguhan Humbahas yang berasal dari peradaban kuno.

Pada abad 16, diketahui Rajanya bernama Sultan Marah Sifat yang berkoalisi dengan Kerajaan Barus Hilir (Di Kab. Tapanuli Tengah sekarang ini), yang dipimpin oleh Sultan Ibrahimsyah Pasaribu, seorang putra Batak yang juga merupakan pecahan dari Kerajaan Hatorusan Kuno.

Bingung do pe dalan tu Pakkat?
Sukkun ma di son !